Dwi Afrianti

Apakah Tuhan sudah mati? Barangkali sudah, bahkan menjadi pernyataan “Tuhan sudah Mati” dari cukup banyak anak di luar sana atau bahkan anak-anak kita sendiri.

“Ibu lebih banyak tahu di fesbuk, di WA, di sekolah Islam dengan teman-teman Ibu yang kebanyakan xxx itu. Tahunya cuma anak-anak yang ‘baik’ yang diposting orang tuanya dengan segudang prestasi. Salat, mengaji, hafal Qur`an, prestasi akademik, dan segudang apa yang dilihat kebanyakan orang sebagai prestasi. Ibu tidak tahu bagaimana lingkungan di luar sana. Banyak anak yang jadi ateis. Orang sedang stres, tapi disuruh salat, padahal anaknya juga ingin salat, tapi nanti; tenangkan pikiran dulu. Banyak anak yang curhat di internet kalau mereka ingin mengganti orang tua dikarenakan suka membanding-bandingkan dengan anak lain. Ibu beruntung punya anak kayak Rahman yang enggak pernah bicara tentang orang tuanya. Ada anak yang mau bunuh diri. Rahman tahu kondisi anak-anak di luar sana. Berbeda sekali dengan zaman Ibu. Teman-teman kelas juga banyak yang orang tuanya cerai, mereka menangis ketika ada pelajaran tentang keadaan keluarga; ada juga yang seperti homoseksual, suka buka-buka website homo. Orang tua jangan bisanya cuma menyuruh salat, mengaji, salat, mengaji, tapi enggak tahu anaknya sedang stres mikirin banyak hal.”

Sore itu, dia menyentak ibunya. Anak jelang SMA yang sedang mencuci piring sambil menangis. Pasalnya, dia sedang memikirkan tentang kelupaan mengirim sebuah tugas sekolah sebagai prasyarat kelulusan SMP, tetapi ibu masih terus bicara yang malah membuatnya semakin tidak bisa berpikir. Ibu menganggap omongan itu akan meringankan perasaannya, tetapi bagi anak hal itu malah menambah beban. Setelah anak selesai mencurahkan seluruh isi hati dan perasaan kesalnya agak meluruh dengan kembalinya terdengar bunyi musik yang mengiringi pencucian piring, ibu pun memeluknya dari belakang dan meminta maaf. Ya, Allah…

Dan, segala sesuatunya sudah Dia susun dengan begitu sempurna. Bagaikan al-hubuk… tali temali, benang-benang yang dirangkai dengan makna… urutan peristiwa dalam waktu, orang… tetapi yang dapat mengambil dzikron, ‘ibroh, maw’idzhoh, hanya mereka yang mau berpikir lebih dalam ke dasar hati… (ulil albab).

Beberapa kali sejak bulan April hingga awal Mei ini, saya disuguhi beberapa film tentang atheis dan Kristen; bagaimana para remaja berpindah agama atau melepas syariat. Sejak lahir ateis karena orang tua ateis, dari Kristen menjadi ateis, dari Islam menjadi Kristen, dari mengenakan hijab hingga membukanya. Awalnya ketika tidak sengaja menemukan film-film seperti itu. Saya bahkan tak tahu isinya apa. Tertuang saja di depan mata, dengan sebuah niat tertuju pada tema tertentu, yang pada akhirnya tidak seperti yang saya lihat. Seperti ketika saya mengetik di bagian “search”: philosophy, biography, muslim, Islam, Arab. Film Arab dan muslim, yang keluar malah film India muslim. Film philosophy, yang keluar ternyata malah film agama. Film Islam, yang keluar malah film teroris. Film biography, yang keluar lagi-lagi tentang anak yang tertekan.

Awalnya, setelah saya menonton film serupa, saya gemas dengan penulis ceritanya. Bagaimana bisa mereka menggambarkan Islam dalam sosok dan keadaan yang buruk? Apakah mau menjelek-jelekkan Islam? Tapi… mengapa Allah menyampaikan saya pada film-film ini secara berentetan hanya dengan maksud untuk mengetahui pandangan Barat tentang sebuah wajah Islam yang tertampilkan buruk? Dan, saya hanya bisa kesal, lalu membuat tulisan tandingan? Mungkin bisa saja seperti itu, namun pesan yang tersampaikan di hati saya tidak terasa seperti itu, tetapi lebih mencermati keadaan diri sendiri dalam interaksi dengan anak-anak. 

Bagaimana juga saya sering terlecut melihat “tampilan kesalehan” anak-anak orang lain yang terpajang di halaman-halaman fesbuk dan media sosial lain. Meskipun sering saya tepis bahwa setiap anak memiliki proses kedewasaan perjalanan dengan hikmahnya masing-masing yang sudah Allah tentukan dengan cermat bersesuaian dengan apa-apa yang akan Allah bentuk pada diri mereka. Unik, tidak sama, memiliki keanekaragaman kekayaan yang beragam satu dengan lainnya. Setiap anak memiliki khazanahnya masing-masing. Tak layak dibandingkan. Tetapi, terkadang ujian tidak sengaja melihat rumput tetangga lebih baik, itu memberi pengaruh dalam pengharapan sesuatu yang belum waktunya, atau memang bukan milik mereka, untuk juga ada pada mereka.

Semakin terasa di masa SFH ini, ketika ingin membantu anak mengerjakan pekerjaan sekolah yang dipindahkan ke rumah dan mengisi aktivitas ibadah harian. Terasa bagi saya, bahwa saya malah khawatir sedang menciptakan seorang monster yang ria, iri dengki, ujub, sum’ah, takabur, atau malah yang muncul perasaan minder tak mampu berkepanjangan. Tak jarang saya peluk mereka, sebagai wujud rasa bersalah dikarenakan kasih sayang, tidak berharap menjadikan mereka sebagai seorang monster. Termasuk ketika menyimak bacaan Qur`an dan hafalan mereka, memantau ibadah harian, dan lain-lain hal yang terkait langsung maupun tak langsung dengan agama.

Kemiripan dari film-film tentang perpindahan agama/syariat yang saya tonton di atas, bahwa semua orang tua dari anak-anak itu adalah orang tua yang sangat keras menerapkan aturan beragama, tanpa memperhatikan dengan seksama lingkungan budaya di mana mereka atau anak itu berinteraksi. Termasuk efeknya terhadap perkembangan usia anak remaja mereka. Mereka memang orang tua yang tidak dekat dengan anak-anaknya. Hubungan orang tua-anak sepertinya hanya dalam urusan perintah-larangan terhadap suatu tindakan terkait apa yang orang tuanya katakan. Anak-anak remaja perempuan diwajibkan mengenakan hijab, dilarang berteman dengan lain jenis, bahkan ada yang dilarang bersahabat dengan teman sejenis. Pulang sekolah langsung dijemput untuk pulang ke rumah. Bila terlambat sedikit, dicurigai. Terlalu overprotective di dalam upaya melindungi anak-anak mereka agar tidak sampai terjerumus ke dalam pergaulan mayoritas ateis dan Kristen.

Pada suatu siang saya menegur anak perempuan saya, yang kalau mengambil buku hampir tidak pernah mengembalikan lagi ke tempatnya. Kata saya, “Apa yang disebut beragama itu, Rahma? Kebersihan, tanggung jawab, merapikan buku, itu adalah agama. Agama itu akhlak.” Mendadak saya tercekat oleh kata-kata sendiri. Bahkan saya pun sedang mengingkari apa-apa yang saya katakan itu. Saya barangkali sedang tidak berakhlak ketika mengatakannya, karena ketika mengatakannya tidak dilandasi oleh kasih sayang kepada Rahma, melainkan rasa kesal karena anak sudah jelang SMP masih saja terus-menerus diberi tahu. Rasa kesal muncul bukan dikarenakan suatu pekerjaan yang dimaksudkan “demi” kebaikan bagi orang lain, tapi bagi keegoisan diri sendiri yang menyarankan atau memberi nasihat. Dan, itu bukan nasihat, tetapi perintah. Bukan amar ma’ruf, namun celaan. Jika kesal, nada suara, raut muka, dan gestur tubuh akan berwujud kesal, di mana tentu saja berbeda dengan sesuatu yang berlandaskan kasih sayang.

Di Ramadhan 1441 ini, saya meniatkan untuk menghentikan semua pengkajian kelimuwan. Hanya ingin mengkaji Al-Qur`an, tetapi seringkali untuk pindah ke pembelajaran Al-Qur`an berikutnya, saya butuh jeda sejenak untuk mengosongkan apa yang ada di hati dan pikiran. Entah itu sekedar diam saja atau apa pun yang Allah buka.

Pada Ahad malam tanggal 3 Mei, saya berkata kepada anak perempuan, “Rahma, Rahma tahu apa yang sedang ingin ibu kerjakan sekarang? Ibu hanya ingin seperti mengambang.”

Keesokan harinya, saya tidak bisa kembali kepada pengkajian Al-Qur`an, selain menonton sebuah film yang lagi-lagi juga menyinggung pengasuhan orang tua. Orang-orang yang melihat film yang sama dengan saya, barangkali akan mengambil fokus yang berbeda karena perjalanan hidup dan pembelajaran yang diperoleh berbeda, sehingga pelajaran yang tampak di film pun akan berbeda. Lihatlah, bahkan melihat satu film yang sama saja, tiap orang mengambil pelajaran yang tak sama. Ini menunjukkan betapa beragamnya perjalanan hidup setiap orang. Lalu, kita menuntut atau ingin memberikan contoh agar anak kita atau anak orang lain sama seperti anak kita?

Inti dari film yang saya tonton tanggal 4 itu adalah apa salahnya orang melakukan kesalahan? Karena, kesalahan itu barangkali merupakan persyaratan untuk melakukan perjalanan berikutnya. Hal ini merupakan tanda-tanda untuk menunjukkan keberadaan Tuhan. Bahwa Tuhan itu ada. Sehingga, pernyataan “Tuhan sudah mati” itu tidak ada. Siapa lagi Sang Maha Penolong ketika hanya ada jurang di sekitar kita? Jika Tuhan sudah mati, maka anak pun sudah duluan mati.

Cisaranteun, 12 Ramadhan 1441 H

Wallahu a’lam bishshawab..