Pepi Ramayati

“Mah, nanti kalau Hafizh sudah masuk kuliah, mau nikah.”

Deg! Mendengar itu, hati saya berdegup kencang. Dengan berat hati, saya bilang, “Mama tidak berhak melarangmu, Nak, tapi Mama berkewajiban membekalimu pengetahuan.”

Percakapan ini terjadi di suatu malam bulan Syawal, tepatnya di hari keenam saya berpuasa sunah. Saat itu kira-kira pukul 02.30 WIB. Suami saya biasanya baru akan tidur, sementara anak saya itu terbiasa begadang sampai pagi.

 Sekitar seminggu belakangan ini dia minta dibelikan laptop seharga sembilan juta rupiah. Dia memiliki hobi di bidang IT yang memang menghasilkan uang. Tentu saya sangat bangga memiliki anak yang memiliki kecerdasan bidang IT di atas rata-rata umumnya anak seusianya.

Namun, karena tidak memiliki uang sebanyak itu, kami belum bisa memutuskan bagaimana bisa mendapatkan laptop yang dia butuhkan. Ayahnya sudah menyanggupi untuk membayar cicilan senilai enam juta.  Ya, pastinya yang terbayang adalah  kepada siapa saya harus meminjam uang untuk deposit awal yang cicilannya ringan bagi saya.

Kisah ini berawal ketika sahur hari itu membahas bagaimana mendapatkan cicilan laptop yang aman tanpa riba. Namun, tiba-tiba saja anak saya itu mengungkapkan sebuah pengakuan yang membuat saya cukup kaget, tapi merasa senang dengan segala kejujurannya.

Sejak awal masa lockdown, kurang lebih dua minggu, dia bersama teman SD-nya membuat video untuk lomba vlog tingkat nasional. Anak saya menjadi perwakilan sekolah yang diikutsertakan pada lomba vlog tersebut. Katanya, dia sempat akan berbuat curang demi mendapatkan views dan like terbanyak. Dia tahu caranya, karena pernah membongkar database sekolah.

Tapi, alhamdulillah, niat buruk itu batal, karena  Allah mengingatkannya sebuah ayat yang ia sampaikan di video itu. Anakku teringat akan firman-Nya, “… maka jika Allah tidak menolongmu, siapakah yang akan menolong sesudah itu.”

“Alhamdulillah, Allah telah menolongmu, menjagamu dari perbuatan dosa,” ungkap saya seraya terharu bahagia.

Satu lagi yang dia ungkapkan, yang membuat jantung saya hampir tak berdenyut, yaitu rencananya saat kelak sudah masuk kuliah, dia akan menikah muda. Meski saya dan ayahnya dulu menikah muda ketika kami masih kuliah, toh pernyataan anak saya tersebut tetap saja membuat diri saya sesaat tak sanggup berkata-kata. Namun, akhirnya saya memberikan sedikit pemahaman kepadanya tentang apa sisi positif dan negatifnya bila kita mengambil keputusan untuk menikah di usia muda.

Dari sisi agama, saya mencoba menyampaikan bagaimana mental yang harus disiapkan terhadap penilaian masyarakat yang heterogen tentang pemahaman konsep menikah muda.

Tidak lupa saya mengulas kisah perjalanan saya dan ayahnya ketika kami menikah muda di masa kuliah. Dulu kondisi saya dan ayahnya sama-sama berada di dalam satu kelas ketika masih kuliah. Usia saya 19 tahun dan ayahnya 21 tahun. Kami, yang sama-sama anak sulung, berhadapan dengan masalah ekonomi keluarga. Dari sisi pengalaman hidup saya, ketika kelas II SMU, tiba-tiba Allah menghadirkan seorang pengacara hukum untuk membantu persoalan perdata bapak saya dengan sebuah koperasi di kota Garut. Hal ini berlanjut, hingga keluarga dari suami saya, ayahnya  Hafizh, terbantu urusan piutang yang sangat besar pada seseorang di masa itu.

Tidak terasa waktu terus bergulir. Jam pun menunjukkan pukul 04.00 pagi. Saya bersegera  sahur dengan mi instan rebus yang mudah penyajiannya untuk disantap ketika itu.

Sangat tidak mudah memang bagaimana orang tua harus mendidik anaknya, sebab setiap manusia terlahir ke dunia dengan membawa ketetapan misi hidup dan jalan hidupnya masing-masing dari-Nya.

Tugas kita sebagai orang tua berusaha semaksimal mungkin untuk membimbing, mengarahkan, dan memberi contoh terbaik bagi anaknya. Menyayangi anak hingga ke jiwanya. Orang tua bukan sekedar memberikan sandang, pangan, dan papan untuk kelangsungan hidup di dunia, namun juga harus membekali anak dengan pengetahuan agama yang benar. Ini sangat penting sebagai bekal mengarungi kehidupan rumah tangga dan membantu anak menjalani kehidupan hingga di alam setelah kematian. Insya Allah.

Arcamanik, 11 Juni 2020