Alfathri Adlin

(Jebolan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta)

Mursyid-ku pernah menjelaskan ihwal kenapa dalam Al-Qur`an ada ayat yang menjelaskan bahwa Allah menjadikan angin sebagai kabar gembira (bushran). Kenapa?

Kita tentu sedikit tahu soal atmosfer di bumi kita. Dahulu kala, orang berlayar dengan kapal yang menggunakan layar. Angin adalah hal yang vital agar kapal laut bisa bergerak mengarungi lautan.

Nah, hal yang paling ditakuti oleh para pelaut di masa lalu adalah dead calm. Apa itu dead calm? Yaitu, ketika para pelaut terkatung-katung di tengah laut tanpa angin yang bisa menggerakkan kapalnya; dan itu bisa berlangsung selama berminggu-minggu. Akhirnya, bahan makanan pun menipis dan mereka malah mati kelaparan di atas kapal laut tersebut.

Begitu pula halnya manusia. Jika Allah tak menghembuskan ke dalam hatinya dorongan untuk bertaubat dari sekian banyak keliarannya, bagaimana kiranya akhir hidup dia? Atau, bagaimana jika Allah tak mengembuskan ke dalam hatinya dorongan untuk menjerit dan berdoa kepada-Nya dari mabuk akan kehidupan dunia? Seperti apa kelanjutan kisah hidupnya? Atau, bagaimana jika Allah tak mengembuskan ke dalam hatinya dorongan untuk memaafkan orang lain dan tak memelihara dendam dengan apik dalam dadanya? Sebesar apa kebencian yang dibawanya saat maut menjemput? Atau, bagaimana jika Allah tak mengembuskan ke dalam hatinya dorongan untuk beribadah dan bersujud di hadapan-Nya? Lalu, maut datang dan habislah sudah, tak ada bekal yang bisa dibawa untuk menempuh perjalanan berikutnya di mauthin barzakh. Apa lagi yang tersisa?

Maka, bagi siapa pun yang memahami hal ini, tatkala dirinya tiba-tiba menjadi malas beribadah, malas untuk menambah ilmu agama sebagai panduan hidup (karena tak secanggih filsafat misalnya), berat hati untuk menjalani hidup dengan lapang dada karena begitu menyayangi luka dan dendam kesumatnya, bahkan malas untuk berdoa, maka semestinya yang bersangkutan segera menjerit kepada Allah, agar Dia Ta‘ala berkenan mengembuskan kembali “angin sebagai kabar gembira” yang dapat menggerakkan hati kita, agar mau kembali beribadah, belajar ilmu agama, melupakan sakit hati dan dendam yang dirawat apik dalam dada, mau berdoa meminta penjagaan dan pertolongan, sehingga bisa bersegera dalam berjalan kembali kepada-Nya.

Begitu pula halnya dengan salat sebagai tiang agama. Kenapa? Karena bahkan keinginan untuk salat sekali pun, kalaulah bukan karena Dia Ta‘ala kehendaki agar hati dan badan kita terdorong menegakkannya, kalaulah yang terjadi itu seperti yang Al-Qur`an tegaskan ihwal Dia mengunci mati hati seseorang, maka sungguh kita tak akan tergerak untuk menegakkan shalat.

Karena itu, jika sampai saat ini kita masih tergerak untuk beribadah dan berdoa kepada-Nya, seburuk apa pun kualitasnya, maka syukurilah hal tersebut. Kenapa? Sebab, bagaimana pun, itu adalah isyarat bahwa Dia Ta‘ala masih mengembuskan “angin sebagai kabar gembira” ke hati kita. Bahkan, mintalah kepada-Nya agar kita semakin tergerak lebih mencintai-Nya, lagi dan lagi.

Ketika saya meng-upload meme bertuliskan perkataan dari Rabi‘ah al-Adawiyyah, “Seorang hamba dikatakan ridha kepada-Nya tatkala kebahagiaannya saat ditimpa musibah sama dengan kebahagiaannya saat diberi nikmat.” Seorang facebook friend berkomentar, “Abot, kang.” Saya timpali, “Iya, abot, padahal dalam kenyataannya kita bisa mencintai kekasih pujaan hati dengan menerima apa pun yang dia lakukan dan katakan, bahkan hingga membawanya ke jenjang pernikahan.”

Maksudnya begini. Dalam Al-Qur`an seringkali ditegaskan bahwa “Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah.” Kenapa demikian? Sebab, seseorang tak bisa ridha kepada Allah sebelum Allah duluan yang ridha kepada mereka. Bagaimana agar Allah ridha kepada kita? Ridha dulu terhadap segala ketetapan Allah bagi kita dalam hidup ini. Belajarlah mencintai dulu itu semua. Semoga nanti Allah pun cinta dan ridha kepada kita, sehingga kita pun bisa cinta dan ridha kepada-Nya.

Jalaluddin Rumi pernah berkata kurang lebih begini: “Jika ada kilat cinta di hati yang ini, niscaya ada kilat cinta di hati yang lain.” Dan, di bagian lain, Jalaluddin Rumi berkata: “Dulu aku mengira bahwa antara Cinta dan Pecinta itu dua hal yang berbeda; ternyata aku salah. Keduanya sama.”

Maksudnya, kalau bukan karena Allah berkenan mencintai kita, maka tak mungkin kita pun akan tergerak untuk mulai bisa mencintai-Nya. Jadi, kalau pun kita malas salat, maka segeralah menjerit dan berdoa kepada-Nya, agar diberi hati yang gandrung menunggu waktu salat. Menjeritlah: “Ya, Allah, celaka aku kalau seperti ini terus-menerus…” Karena, kalau tak Dia hembuskan “angin sebagai kabar gembira” ke hati kita, habislah sudah.

Jika kita simak dalam Al-Qur`an, di sana terlihat bahwa yang bertaubat itu adalah yang Allah kehendaki. Kemudian, yang beriman pun adalah yang Allah kehendaki. Lalu, yang mendapat petunjuk pun adalah yang Allah kehendaki. Setelah mendapat petunjuk, agar dapat menjalankannya, manusia masih memerlukan taufiq, yaitu kemampuan yang Allah berikan untuk taat menjalankan petunjuk tersebut (sebab manusia sangat bisa menolak mematuhi petunjuk dan memilih keinginannya sendiri). Dengan meng-khatam-i itu semua, kita bisa berkata kepada diri sendiri, “Apa yang manusia punya jika keinginan bertaubat pun Allah yang memberikan dan menghendaki?”

Karena itu, coba lihatlah foto ini. Betapa beruntungnya bapak ini. Meskipun miskin dan bekerja sebagai pemulung, namun Allah masih berkenan mengembuskan “angin sebagai kabar gembira” ke dalam hatinya, sehingga dia pun tetap menegakkan ibadah salat di mana pun. Bukankah dia sangat beruntung bila dibandingkan dengan orang kaya yang tak tergerak untuk menegakkan salat sama sekali, dikarenakan Allah tidak berkenan mengembuskan “angin sebagai kabar gembira” ke dalam hatinya? La hawla wa la quwwata illa billah.

Terakhir, saya percaya sebagian pembaca akan lebih tertarik mempermasalahkan “kenapa dia tak mencari mushala dan malah memilih salat di pinggir jalan”, sehingga topik utama yang saya angkat dalam tulisan ini jadi tak berarti apa pun. Ini mirip orang yang lebih tertarik pada kekarnya telunjuk yang menunjuk ke arah bulan. Teks itu otonom, setiap pembaca pasti akan membaca berdasarkan vorverstehen (prapemahaman atau prasangka) masing-masing. Tabik.