Eveline Ramadhini

Kakek matanya teduh. Jasnya tua. Setua topinya. Setua gelas yang ia gunakan untuk menyeduh kopi dan kenangan. Walau kulitnya telah keriput, tetapi tulisan-tulisannya begitu awet muda. Aku mengenal kakek dari tulisan-tulisannya.

“Kakek…,” kataku sangat bahagia, karena bisa berjumpa. Ia sudah seperti kakek sendiri yang sangat menyayangi cucunya. Kasih sayangnya betapa terasa lewat goresan penanya.

Aku pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku berkata padanya, “Kek, aku sudah banyak membaca buku-bukumu, lho. Aku pernah baca novelmu yang berjudul “Yang Fana adalah Waktu”. Terus aku suka sekali dengan puisi-puisimu “Hujan Bulan Juni” dan tentunya aku hafal semua musikalisasinya yang pernah digubah oleh Ari Malibu. Oh, iya, aku juga sangat suka dengan puisimu yang sangat panjang tanpa titik tentang sepasang kekasih dan sapu tangan. Kataku panjang lebar kali tinggi.

Ia tertegun dan tersenyum.

“Kek, bukankah betul setiap orang akan dikenang melalui karyanya? Seperti dirimu, Kek.”

Ia diam. Lama. Lalu terbatuk pelan. “Cu, setelah aku merasakan—memang betul setiap buku yang aku tulis memang akan terus-menerus ada. Akan dikenang oleh dunia. Tetapi, setelahnya, justru aku merasa telah dilupakan.”

“Karena yang diingat adalah karyaku, bukan diriku, Cu. Setelahnya aku akan dilupakan. Namaku hanya disebut-sebut dalam desain duka. Lalu, setelah itu akan menghilang. Mereka akan lebih melihat pada huruf-huruf yang kucipta dibanding keadaanku di sini.” Ia pun amat bersedih.

Aku tak menyangka, begitulah jawaban seorang kakek yang terkenal di jagad perpuisian. Karena perkataannya, aku ingin menangis sepuas-puasnya, karena hidup ini indah, seperti kata kakek.

Kakek menggenggam bunga kemboja di tangannya. Bunga itu putih, putiknya kekuning-kuningan. Ia memberi bunga itu kepada diriku. “Mulai hari ini, berjanjilah, agar kamu, Cu, bukan hanya selesai ketika telah membaca karyaku. Sebab, bukuku akan usang dimakan rayap peradaban, kata-kataku rupanya tak abadi. Yang abadi adalah jiwa yang merindu, Cu.”

“Ketika ingat pada karyaku, ingatlah untuk mendoakanku untuk keselamatanku. Sebab, aku begitu membutuhkannya,” suaranya begitu parau.

Ia pun menghilang,

Menuju bilik bayang-bayang.

Tiba-tiba, puisi buatan kakek penggenggam bunga kemboja itu terngiang-ngiang di kepalaku

aku mencintaimu,

itu sebabnya

aku takkan pernah selesai

mendoakan keselamatanmu.

***

Al-Fatihah untuk Kakek Sapardi Djoko Damono

Depok, 20 Juli 2020

Sumber : https://www.penanusantara.com/kamboja/