Nina Kirana

Senin, 27 Juli 2020. Sekeping pagi yang cerah.

Pagi itu kubuka aplikasi ojek online yang ada di telepon genggamku. Setelah klak-klik di sana-sini, akhirnya kutekanlah opsi “order” di halaman pemesanan aplikasi tersebut. Tak menunggu lama, sebuah motor ojek online datang menjemput. Tersenyum menyapaku sejenak sambil memastikan nama dan tujuan perjalananku, bapak driver itu pun lalu mengantarkanku.

Di sepanjang jalan yang padat, kami berbincang tentang keseharian beliau sebagai seorang driver ojek online. Sebuah pekerjaan yang sudah beliau tekuni sejak tahun 2017.

Sekitar tujuh belas menit kemudian, tibalah kami di tempat tujuan. Kulangkahkan kaki memasuki gedung itu, sementara bapak driver melanjutkan perjalanannya berjuang menghidupi keluarga.

And… this is the story.

Hari itu merupakan hari di mana untuk keempat kalinya aku mengalami “penolakan” sebagai pendonor darah rutin. Ya, betul, untuk keempat kalinya. Subhanallah… That’s amazing! Sudah kurasa sejak masih berada di rumah sebetulnya kemungkinan akan terjadi lagi seperti ini. Penyebabnya masih tetap sama, yaitu kondisi atau kualitas haemoglobine (Hb) darahku yang –lagi-lagi- tidak memenuhi persyaratan untuk didonorkan. Untuk mendonorkan darah, pendonor harus memiliki Hb minimal 12,5, sedangkan jumlah Hb-ku lagi-lagi hanya berkisar di angka 11. Tepatnya hanya 11,9. Tidak mencapai angka 12, apalagi 12,5.

Sedih? Ya, aku masih bisa merasakannya di sini, di sudut hati ini. Tipis. Meski sudah feeling ini ‘kan terjadi lagi, namun lintasan itu masih ada. Tersisa dengan kadar sekian persen; kadar yang sudah banyak berkurang bila dibandingkan dengan momen saat kuterima penolakan pertama, kedua, dan ketiga.

Astaghfirullah… berkali-kali kucoba ber-istighfar, meresapkan istighfar itu hingga merembes ke segenap dinding-dinding hati. Dan, di saat yang sama, ada sebuah rasa kebersyukuran menyelinap lembut di ruang hatiku yang lain. Ada teguran pelurusan niat sekaligus peneguhan diri kurasakan berpaut di dalam sini. Kalau bukan karena pertolongan-Nya, Sang Zat Maha Rahman, Maha Pengampun, hatiku tak akan sanggup meleleh seperti ini. :’( Karena, yang ada pastilah kekerasan –pengerasan demi pengerasan hati- yang ‘kan mengubah hati menjadi seperti batu. Aduh, ngeri! Na’udzubillahi min dzalik.

Lihatlah, bagaimana kita betul-betul sangat membutuhkan-Nya, membutuhkan pertolongan-Nya di setiap liku hidup. Karena, proses pelembutan hati tidak akan pernah bisa terjadi bila Dia, Sang Cinta, tak hadir merahmati. Melembutkan hati bukanlah hasil usaha kita, melainkan ada Tangan-tangan Allah yang bekerja tanpa henti, merahmati diri.

Dinding-dinding beku hati tak akan pernah bisa luruh meluluh bila Dia tak hadir mendampingi.

Sungguh, aku betul-betul bersyukur pada-Mu, duhai, Rabb, sebab masih berkenan Engkau perjalankan diri hina ini mendaki aqabah demi aqabah di jalan yang sukar, penuh duri, lagi mendaki ini. Subhanallah walhamdulillah… :’(

Terima kasih, Rabbi. :’(