oleh Eveline Ramadhini

Di era kenormalan baru ini, Budi ditugaskan oleh gurunya untuk mengisi kemerdekaan. Budi mengisi kemerdekaan di dalam sebuah toples kaca yang diukir dari permata. Di dalamnya terdapat permen warna-warni. Juga emas pengorbanan yang menjuntai mesra.

Ia lihat-liat lagi, betapa indahnya kerlap-kerlip jagad dalam toples ini. Nampaknya telah penuh toples kemerdekaan itu.

“Kuisi dengan apalagi Bu?” Budi bertanya kepada ibunya.

Setelah ia teliti lagi, rupanya di dalam toples itu berisi semesta Sang Saka. Di dalamnya ada bekas darah dari bambu runcing para leluhur. Budi masuk lebih dalam lagi, dan mendapati di dalamnya ada ribuan pelangi yang diisi oleh para guru yang berbakti mencerdaskan kehidupan bangsa. Juga diisi oleh para siswa yang terus belajar demi kebaikan negeri.

Budi takjub dan semakin penasaran, dan bertanya kepada ibunya, “Bu, dengan apalagi kita bisa mengisi toples kemerdekaan ini?”

“Dengan cinta kepada sesama, Nak. Dilandasi hati yang takwa.”

Budi pun menaruh hatinya pada toples itu, tiba-tiba bendera merah putih berkibar bagai diterpa angin, dan suara pun menggelegar dari dalamnya, “Merdeka!”

Depok, Agustus 2020