sumber gambar: https://podtail.com/no/podcast/suara-hati-1/

oleh Moch. Sya’ban Suwargana

Darah-darah tersitir, carut-marut karsa pikiran mendadak terdiam. Kala hati menghimpun rasa, dentingan jarum terdengar seperti gugahan kekagetan.

Aku mencari suara hati di sela-sela gemuruh riuh bersahutan. Di ruang-ruang sempit, di jalan gang-gang yang dingin basah.

Jalan berbelok-belok gelap dihentak turunan tajam, namun ramai teriakan nyaring. Hawa udara beriak bergoyang menerpa dinding-dinding lorong, menghempas gaungan cadas. Dorong-mendorong, gegas-menggegas menyelinap membayangi suara-suara kepalsuan.

Sejenak menghela luapan suara yang tergopoh-gopoh, sayup-sayup terdengar bulihan suaranya yang bulat-bulat lembut menawan tapi tertawan. Itukah suara hatiku yang lini merdu menggapai lambai? Kusela lambat-lambat, agar gapaianku tersingkap tangkap.

Tiba-tiba terhenyak kekagetan, “Bukan, bukan. Itu bukan suara hatiku! Itu palsu. Atau, suara yang itukah di sebelah sana?”

Kumulai menyapa, rasa bimbang mulai menggelambit, kebingungan yang bersangat, begitu mendera.

Tapi, saat harapan keyakinanku meninggi sarat, suara itu begitu melemah lambat, ketika dayaku lampis sudah tak bertuan, tampak lambaian-Nya kuat membisik.

Aku mulai fakir, keadaanku membuah fakir anganku dan bersadar. Lamat-lamat kesadaran memuai muatan, kata-kata tak tertahan dan tak berseloroh, “Ya, Tuhanku, Sang Pemilik Hati, aku membutuhkan Furqan, Sang Pembeda Rasa. Di manakah suara-Mu?”

Bandung, 4 September 2020