Prihastri Septianingsih

Kita adalah putra-putri dari orang tua kita masing-masing. Kehadiran kita menjadi pengharapan dan kebahagian mereka. Kita tumbuh dalam asuhan dan kasih sayang mereka, hingga kita dewasa. Tangis dan tawa kita merupakan kebahagiaan bagi mereka. Sikap nakal kita tidak menjadi gangguan bagi mereka, tanpa kita sendiri peduli apa yang telah kita lakukan dengan membuat susah ayah dan ibu.

Hingga tiba masanya kita menjadi dewasa dan matang dalam segala hal. Keinginan utama kita tentu adalah menikah, hidup berumah tangga dengan orang yang kita cintai, pasangan pilihan kita. Berharap semoga itu juga menjadi pilihan Allah untuk kita, seumur hidup.

Setelah menikah, tentu kita berharap mendapat keturunan yang manis dan lucu, baik laki-laki maupun perempuan, atau keduanya. Suatu kebersyukuran yang tidak tertandingi oleh apa pun, walau dengan harta yang melimpah ruah. Itulah mengapa bila kita lama tak berjumpa dengan siapa pun, pasti yang ditanyakan adalah “Sudah berapa anakmu?” Bukan “Sudah berapa banyak hartamu?”

Setelah kita mendapatkan karunia-Nya berupa anak, maka kewajiban selanjutnya adalah menjaga, mengasuh, memberikan perhatian, dan membesarkan mereka dengan izin Allah. Karena, kita ingin anak-anak tumbuh besar dan sehat. Kita bertanggung jawab memberikan pendidikan dan pengajaran sejak dini, serta menyekolahkan mereka. Ini agar mereka tumbuh menjadi anak yang pandai bersosialisasi dengan masyarakat dan teman-temannya, memiliki karakter dan akhlak yang baik terhadap sesama.

Setelah anak tumbuh dewasa, ada perasaan bangga dan syukur bisa menjaga mereka sebagai makhluk titipan Allah pada kita. Hingga akhirnya, tiba pula masa mereka harus hidup berkeluarga, mendapatkan pasangan hidup, dan menikah, seperti kita dahulu. Apa pun yang terjadi, kita harus melepas mereka untuk hidup bahagia bersama pasangan pilihannya.

Jika anak kita laki-laki, maka ia tidak akan menjadi milik kita sepenuhnya, tetapi juga milik istrinya; dan jika anak kita perempuan, maka acapkali ia akan segera dibawa suaminya menjauh dari kehidupan kita.

Dulu kita bisa bersama bercengkerama, kini tak lagi bisa merasakannya. Itulah kehidupan yang akan terus berulang dan pasti, seperti ketika kita pergi meninggalkan orang tua kita dahulu. Perasaan bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. Ini pun harus kita rasakan.

Seperti roda yang berputar melingkar, bergerak dari satu titik, tetapi suatu saat ia akan kembali ke titiknya semula. Begitulah kehidupan yang harus kita jalani ini, yang merupakan sunatullah semata.

Mencoba belajar untuk selalu mensyukuri apa yang telah Dia hadirkan untuk diri kita masing-masing.

Dianugerahi-Nya kita kesempatan untuk merasakan kebahagiaan maupun kesedihan secara bergantian. Itu semua sebagai pembelajaran, agar kita mengenal siapa Tuhan kita sesungguhnya.

Hati mengharu biru atau merah membara; kitalah yang harus dapat mengendalikannya, tanpa terlepas dari bantuan Allah. Tetaplah berdoa dan berusaha. Karena, tidaklah Dia Ta’ala mengubah nasib seseorang, jika orang tersebut tidak mau menata dan mengubah dirinya sendiri, selalu melakukan pengabdian, dan memohon petunjuk kepada-Nya.

Masing-masing diri kita akan sampai pada taraf itu dan semua berjalan atas izin-Nya. Tinggal kita menghitung berapakah keturunan yang kita miliki, yang akhirnya perlahan tapi pasti akan pergi satu per satu meningggalkan kita, tanpa bisa dihindari. Hanya berharap kita bisa mengantarkan mereka semua sampai ke masa itu. Hanya Dia Yang Mahatahu.