Photo by Nat Arnett from FreeImages

oleh Corry Monesty Alfikheir

Tiap bayi lahir ke bumi dalam keadaan fitrah. Mereka memiliki mandat agung yang telah ditulis dalam takdir kehidupannya oleh Sang Maha Pencipta. Dalam sebuah hadis dikatakan bahwa setiap bayi manusia yang lahir ke bumi, ada setan yang juga lahir menyertainya.

Dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin, Imam Al-Ghazali menguraikan bahwa dalam diri manusia terkumpul empat sifat, yakni sifat kebuasan menaati hawa nafsu, syahwat, sifat kebinatangan yang menaati amarah, sifat kesetanan bertugas dalam menggerakkan sifat kebuasan dan kebinatangan yang ada pada manusia, dan sifat ketuhanan berupa ilmu dan hikmah meliputi pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu. Sifat ketuhanan inilah yang akan melepaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu dan kemarahan.

Seiring dengan bertambahnya usia, bayi akan mencuri tabiat orang tua dan lingkungan di luar dirinya berupa sifat baik dan sifat buruk, seperti spons yang menyerap dengan cepat apa pun yang disentuhnya.

Berkumpulnya empat sifat manusia yang diterangkan oleh Al-Ghazali di atas, serta fenomena interaksi harian bayi hingga bertahun-tahun kehidupannya, akan membentuk akhlak yang melekat pada dirinya.

Kemelekatan itu seperti tumor yang menempel pada tubuh, butuh tindakan dokter bedah untuk mengambil tumor, agar berdampak baik bagi kesehatan jasad pasien. Sebelum dokter bedah melakukan tindakan pemotongan, pasien harus dianesti terlebih dahulu, agar tidak mengalami rasa sakit akibat proses pemotongan itu dan dokter bedah dapat bekerja lancar dalam menyelesaikan tugasnya.

Lalu, bagaimana jika kemelekatan ini berupa unsur batin yang berdampak pada kesehatan jiwa seseorang dan–yang terparahnya–mengakibatkan pembesaran kemelekatan sayyiah (sifat buruk) pada jiwa, di mana hal ini berdampak pada kematian jiwa?

Lalu, bagaimana cara memotong kemelakatan pada unsur batin ini?

Hal pertama yang perlu diketahui agar kemelekatan sayyiah diri bisa dipotong adalah dengan menyadari qalb itu sakit. Sesuatu yang dicintai selain daripada Allah, menyebabkan qalb orang itu sakit. Kebanyakan manusia tidak menyadari ia mengalami sakit pada qalb-nya. Karena itulah ia lengah. Apabila Allah menghendaki kebajikan pada diri hamba-Nya, niscaya diperlihatkan-Nya kekurangan-kekurangan diri hamba itu, agar ia dapat mengobatinya.

Al-Ghazali mengemukakan terdapat empat jalan untuk mengetahui kekurangan diri. Pertama, ia duduk di hadapan guru yang melihat kekurangan dirinya, yang akan memperhatikan bahaya-bahaya tersembunyi pada dirinya, sehinggga ia akan menuruti petunjuk sang guru pada mujahadah-nya. Kedua, ia akan mencari teman yang benar, yang melihat dengan mata hati dan agama. Dijadikannya teman itu ‘pengintip’ dirinya untuk memperhatikan ihwal perbuatannya. Ketiga, ia memperoleh faedah dalam mengetahui kekurangan diri melalui perkataan lidah musuhnya. Dan keempat, ia bercampur dengan manusia, sehingga ketika semua yang dilihatnya tercela di antara orang banyak itu, maka seyogyanya ia mencari pada dirinya sendiri dan menyandarkan perbuatan tercela itu kepada dirinya. Karena orang mukmin merupakan cermin mukmin yang lain, maka manusia yang tidak dapat menerima kelemahan dirinya ialah manusia yang lemah imannya.

Karena itu, bermohonlah kepada Allah Ta’ala agar diilhami-Nya petunjuk, diperlihatkan-Nya segala kekurangan diri, dianugerahi-Nya kesibukan untuk mengobati kekurangan tersebut, dan diberikan-Nya taufik untuk memiliki rasa syukur (terima kasih) kepada orang yang memperlihatkan segala keburukan diri kita dengan nikmat dan karunia-Nya.

Setelah mengetahui sayyiah yang ada pada diri, maka ia harus memiliki tekad yang kuat ( ‘azam ) dengan sungguh-sungguh menyerahkan diri kepada Allah. Hal ini merupakan anestesi dalam pembedahan jiwa.

Pemotongan kemelekatan unsur hawa nafsu dan syahwat sangat sukar, jika tidak menyerahkan diri sepenuhnya pada Ilahi, akan terjadi pemberontakan yang kuat dari dalam diri. Karena itu, perlu kepasrahan total meyakini bahwa Allah sedang melakukan proses pengobatan, perbanyak ibadah, berdoa meminta pertolongan dan taufik, agar diberi kekuatan untuk dapat menghadapinya.

Setelah melakukan anestesi jiwa, yakni penyerahan total terhadap kehendak Ilahi–menyadari bahwa ia sedang dalam proses pengobatan, maka diperlukan proses pembersihan sayyiah dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Sebuah hadis berbunyi, “Takwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutilah kejelekan itu dengan kebaikan yang menghapusnya, dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik.”

Seyogyanya lakukan banyak kebaikan dengan harapan agar Allah mengganti sayyiah yang ada pada diri menjadi hasanah.

Agar proses pemotongan sayyiah berjalan cepat dan sempurna, maka ia harus melepaskan keinginan-keinginan selain keinginan kepada Allah. Tidak cinta pada dunia merupakan benteng dari munculnya sayyiah baru. Layaknya pertarungan Rama melawan Rahwana yang memiliki aji pancasona, di mana Rahwana tidak akan mati selama jasad tubuhnya terkena tanah. Tanah ibarat bumi yang melekat kepada dunia. Seandainya sayyiah yang telah dipotong condong kembali ke dunia besar, ini tanda sayyiah itu muncul kembali.

Jalan keseluruhan pada pengobatan itu ialah menempuh jalan yang berlawanan dari yang diinginkan hawa nafsu, syahwat, dan hal yang dicenderunginya. Dalam surat an-Nazi’at ayat ke-40-41 tertulis “… Dan adapun orang yang takut di hadapan kebesaran Tuhannya dan melarang dirinya dari keinginan hawa nafsu, sesungguhnya surga (adalah) tempat kediamannya.” Hal ini pun terdapat dalam sebuah hadis bahwa jihad sesungguhnya adalah jihad melawan hawa nafsu.