Photo by Jasper Garratt on Unsplash

Oleh Septina Ferniati

Bertahun lalu kuandaikan diriku seorang philantropis yang kaya raya; membantu dan mengayomi banyak orang yang membutuhkan. Kubayangkan diri memasuki gang-gang gelap dan sempit, mengetuki pintu rumah, lalu menyodorkan amplop berisi cuan atau sembako berupa satu karung beras terbaik, satu kilogram telur, sedus mi instan, seboks sayur-mayur dan buah segar, dan seterusnya. Kubayangkan wajah-wajah bersinar gembira, juga senyum penuh rasa syukur dan terima kasih.

Di tengah masa penuh pengandaian itu, Tuhan bekerja; didatangkan-Nya orang-orang baik yang sangat butuh bantuanku. Mereka bercerita betapa berat membeli beras dan lauk, “Suami sedang gak kerja, Teh. Jadi menganggur terus sebulan terakhir ini. Maklum, buruh bangunan.”

Atau, “Anak saya sudah tiga bulan gak bisa bayar SPP, Teh. Kalau Teteh bisa bantu sebulan aja, kami senang …”

Atau, “Uang untuk beli bahan gorengan kepake untuk nolong ibu ke dokter. Bisakah pinjam 100 rb?”

Aneh, di masa belum kaya itu, saya penuhi satu per satu yang mereka butuhkan. Selalu pas. Mereka datang saat honor terjemah baru cair. Indah sekali.

“Neng, mamah masuk rumah sakit. Kalau kamu gak keberatan dan sedang ada, ditunggu transferannya, ya!”

Begitu terus setiap waktu, berulang kali.

Hingga takdir kemudian merenggutku ke realita paling pahit; mataku tinggal satu, otomatis sukar mencari partner kerja yang rela maklum soal ini dan itu. Intinya, semua jenis kerja yang pernah kugeluti meninggalkanku. Tersudutlah aku, terkucil. Dunia penerbitan mencoret namaku dari link partner mereka. Takdir.

Aneh, pintu rumahku tetap diketuk orang. Mereka tak selalu butuh cuan, melainkan hal lain semacam beras, telur, gula, teh, dan teman-teman. Dan, satu-dua kali, ada yang mengaku butuh taubat! Jujur, yang terakhir tak terlintas dalam benak dan tak ada dalam daftar pengandaianku.

Ya, aku kembali ingat masa konyol ketika pikiran masih sangat mentah; merasa hanya dengan takdir kaya sajalah aku bisa membantu orang lain. Konyol, ‘kan?

Orang-orang yang ingin taubat adalah yang paling merebut minatku. Dengan sendirinya kucermati diri sering-sering. Kudebat, kutanya, kumaklumi, kuprasangkai, bahkan kumarahi jika ia berlaku keliru. Kuperiksa niatku; tulus atau palsu. Akan memalukan jika kulakukan taubat setengah-setengah, sedang orang-orang yang butuh taubat serius menjalaninya.

Tanpa terlalu kusadari, sebenarnya aku telah terbiasa memberi beras pada yang membutuhkan. Biasanya kubagi dua jatah beras di rumah dengan orang yang butuh itu. Perlahan bahkan Tuhan menunjukkan jalan bekerja sama dalam berdonasi dengan teman-teman yang punya kepedulian serupa. Aku hanya membantu doa, tenaga, dan info tentang orang yang paling pantas menerima bantuan.

Yang menarik, usai Ramadan, donatur makin sedikit. Hingga teman-teman stuck dan memutuskan berhenti berbagi dulu. “Uang untuk beli beras belum terkumpul. Dan, kami merambahi tempat-tempat lain kemarin. Kami temukan titik-titik baru yang juga butuh bantuan. Jadi, maaf belum bisa berbagi ke tempat Teteh lagi …”

Kudaraskan doa penuh permohonan pada Tuhan; agar Dia menggerakkan hati orang-orang baik yang mau rela membantu kami.

Dahsyat. Dalam kurun waktu 10 hari, seseorang mengirimku pesan via Whatsapp. Isinya, “Salam, Fenfen, semoga kabar baik. Saya bisa bantu kasih beras untuk Fenfen dan anak-anak, bahkan ingin bantu kasih untuk tetangga Fenfen yang membutuhkan. Sebulan saya bisa menyediakan 50 kg yang sudah dipaket 5 kg/karung kecil. Gimana?”

Berderai air mataku, sungguh. Doa sederhana yang dikabulkan oleh Tuhan itu sungguh mengesankan bagiku. Memang hanya Dia yang kuasa menggerakkan hati dan menentukan takdir manusia. Dengan bahagia meluap, kukontak teman-teman, kusampaikan kabar baik itu. Semua gembira dan bersemangat lagi.

Mereka yang kubantu taubat pun membaik. Meski pelan, ada kemajuan. Yang menyenangkan adalah fakta bahwa dengan sendirinya aku pun ‘maju’ dan membaik. Indah sekali.

Aku tak makin kaya, namun tak pernah terjadi situasi sangat kekurangan selama pandemi. Anak bungsuku bahkan rela ikut menjalankan puasa sunnah. Katanya, “Paling enak pas gak ada uang itu puasa lho. Kita gak akan terlalu lapar, terus dapat pahala lagi …” Mengharukan.

Tak ada lagi pengandaian. Aku bebas. Kuberi orang yang butuh kala aku lapang. Jika tidak–jika sedang tidak lapang–mereka bisa menunggu. Tentu kudoakan kami semua tercukupi. Nyatanya memang begitu; Tuhan senang mencukupi keperluan hamba-hamba-Nya yang mau berdoa dan belajar berserah pada-Nya.

Dan, itu bukan kaleng-kaleng. Sudah kurasakan indahnya berbagi dan berhenti berandai-andai. Kubiarkan takdir menyapa–kadang ringan kadang berat–dan sepenuh hati kusandarkan diri pada-Nya, pada takdir-Nya, pada kuasa-Nya.

Toh semua telah ada dalam pengaturan-Nya.[]