Oleh Arif Budiman

Semalam pada dini hari, tiba-tiba hujan turun disertai angin ribut yang kencang menggoyang kain jemuran di beranda, mengacak-acak daun pepohonan di sekitar rumahku.

Hujannya tidak begitu deras, tetapi angin yang menyertainya teramat berisik dan bikin aku bergidik. Di luar sana terasa agak mencekam, begitu yang aku rasakan dari dalam kamar. Namun, orang-orang sangat nyenyak tidurnya, itu yang kurasa. Termasuk ibu, adik, dan keponakanku.

Di luar sana aku merasa seperti ada satu sosok yang sedang mengamuk dan membuat kecamuk udara pada tengah malam buta itu. Kuhitung kalau tidak salah sudah tiga kali mati lampu gara-gara angin ribut tersebut, meski tidak lama. Mati sebentar, lalu hidup lagi. Begitu sampai beberapa kali.

Dari dalam kamar aku grasak-grusuk sendirian, merasa tidak tenang. Mulai timbul rasa takut dan gentar, pikirku, entah apa yang sedang dan akan terjadi. Akhirnya, sejenak kucoba untuk ber-istighfar dan melantunkan zikir dari dalam hati berkali-kali, riuh rendah zikirku sama terasa seperti angin ribut tersebut, di luar sana anginnya kudengar riuh rendahnya, terkadang pelan, lalu tiba-tiba kembali kencang dan mengagetkan.

Sampai akhirnya angin ribut itu reda seiring zikirku.

Aku ceritakan bahwa ketika peristiwa angin ribut tersebut menggila di dalam kamarku yang tidak begitu luas, aku merasa seolah berada di atas sebuah sekoci kecil yang sedang terombang-ambing di tengah lautan lepas, yang gelombangnya sedang pasang besar dan ditimpa badai kencang menerjang.

Aku takut, Tuhan.

Namun, aku lebih takut terhadap apa yang akan menimpaku setelah kematian, apakah sudah cukup bekalku untuk melawat ke episode demi episode kehidupan di alam berikutnya? Tanyaku dalam hati.

Astaghfirullah
Astaghfirullah
Astaghfirullah

Ya, Rabbana,
Ampuni hamba

Setelahnya, aku merasa bahwa angin ribut di luar sana, tidak lain adalah angin ribut yang melanda pikiranku dan sedang berkecamuk di dalam kepalaku. Dan Tuhan sedang mengajariku cara untuk meredakan angin ribut di dalam kepalaku. Yaitu dengan berzikir.

Tanjungpinang, dini hari, 16 September 2020