Oleh Pepi Ramayati

Siang ini ingin rasanya berbagi πŸ™πŸ»

Rindu kepada seorang sahabat yang lama tidak saya kunjungi. Sambil membawa barang dagangan–sekadar ikhtiar saja–saya membantu menjualkan dagangan saudara sendiri.

Ternyata, alhamdulillah, kehadiran saya membawa “oleh-oleh” bermanfaat bagi sahabat seperjalanan.

Semoga saya bukan sedang membanggakan diri. Justru saya merasa bersyukur Allah memberi sedikit kemampuan untuk saya sedekahkan. Dalam rangka memancing rahmat-Nya, tentu, saya ingin menolong orang lain selama saya sanggup melakukannya. Berharap, di tengah badai kehidupan menerpa, Dia Ta’ala akan memudahkan saya menolong.

Begini ceritanya.

Sebut saja Bu Indah. Beliau memiliki empat orang anak. Yang bungsu benama Fatih, siswa SD kelas V. Tipenya lebih kepada aktif bergerak, sedikit pemalu, cerdas, tapi tidak senang mengerjakan tugas sekolah, apalagi tugas sekolah yang selalu menumpuk.

Baiklah, singkatnya, di masa pandemi ini, PJJ tidak berlaku bagi si bungsu alias terpaksa ibunya saja mengerjakan tugas sekolah hingga saat ini. Termasuk kerja kelompok di rumah temannya pun, ibunya yang hadir. Sementara, si bungsu nyenyak dalam tidurnya.

Huhu … Demikian terbayang bagaimana stresnya sang ibu yang padat dengan tugas anak bungsu, sementara cucian di belakang sudah menggunung. Tidak ada kakak-kakak si bungsu yang mencoba meringankan tugas ibunda.

Kali ini, saya hanya ingin membantu menguraikan permasalahan bagaimana menata pikiran, menyikapi apa yang Allah “hidangkan” dalam keseharian kita.

Suatu hari, Bu Indah ini mengumpulkan beberapa tugas anak bungsunya yang kian hari kian menumpuk.
Tiba-tiba Ibu Indah menerima kabar dari gurunya, semua tugas yang telah beliau kumpulkan ternyata tidak ada. Diduga hilang.

Bagaimana kesalnya perasaan Bu Indah, ya? Mengerjakan tugas anak yang setumpuk. Menulisnya saja menjadi beban yang luar biasa; berjuang bagaimana menulis agar tulisannya itu mirip dengan tulisan anaknya, dan dengan pemandangan setumpuk pekerjaan ibu rumah tangga yang nampak “horor”.

Saya berusaha menenangkan beliau. Saya katakan, bisa jadi data hilang itu bukan semata-mata karena kesalahan guru yang tidak amanah (tidak tertib).
Namun, sangat mungkin Allah sedang berkata-kata, mengajari beliau sejauh mana ketulusan beliau mengerjakan tugas anaknya. Alih-alih dapat pahala, kalau dikerjakan dengan marah-marah, tidak dengan senang hati, maka tentu tidak akan dapat pahala.

Mendengar ini, Bu Indah berurai air mata. Allah membuat semua data yang beliau kerjakan menghilang begitu saja.

Adapun jika guru itu memang tidak tertib, biarlah Allah sendiri yang membereskannya. Bukan urusan Bu Indah. Sudah cukup Bu Indah menjelaskan bahwa beliau sudah mengumpulkan tugas.

Betapa Bu Indah menjadi pusing, bingung, hanya karena setumpuk data tugas anaknya yang hilang. Namun, jika Bu Indah pandai menyikapinya dengan positif, maka hidup pun akan jauh lebih menyenangkan.

Lebih baik data tugas hilang, tapi Bu Indah lebih bisa tersadarkan, karena belum bisa tulus mengerjakannya. Di samping itu, dengan membantu menyadarkannya, bisa menjadi ladang permohonan ampun. Bila tanpa menyertakan asma-Nya dalam bekerja, maka tidak akan pernah menjadi berkah.

Tetaplah belajar bersyukur, karena poin utama hal ini bukanlah tentang meraih pahala, sebab Allah sedang menampilkan sisi “Maha Mengajari-Nya”. Kita akan selalu dibuat-Nya tidak mampu (fakir), agar kita terus berupaya menyertakan nama-Nya di setiap urusan.

Ketimbang merasa mampu bisa mengerjakan tugas karena kehebatan diri sendiri; data aman, tetapi kita tidak mendapat poin apa-apa, apalagi pahala.

Allah Maha Memiliki Segalanya. Hanya satu hal yang tidak Allah miliki: Dia tidak memiliki sifat fakir.

Dengan data hilang, Bu Indah makin merasa fakir, tidak mengkambinghitamkan orang lain, dan jadi ada upaya, yaitu sebaiknya tugas difotokopi dulu sebelum diserahkan.

Ibu Indah pun bisa kembali tersenyum, memahami lebih baik, karena fokus ke dalam diri. Fokus agar ia jauh lebih memperbaiki diri, belajar perlahan menyikapi pagelaran kehidupan dengan berpikir positif: apa sih kehendak-Nya di balik “hidangan istimewa”-Nya ini.

Semangatttt, Bu … πŸ’ͺ🏻πŸ’ͺ🏻πŸ’ͺ🏻

Ibu-ibu yang mulia
Bekerja tulus
Wanita adalah tiangnya negara