oleh Greta Ardiyanti

“Pada alam-alam yang telah tercipta lebih dahulu, kita memiliki hutang.” Kataku pada sesosok gadis yang bermata indah itu.

Lalu, dia tetap duduk tak bergeming, memainkan ujung jari kakinya. Tapi, aku tahu, dia menyimak. Tak lama kemudian, dia berganti posisi duduk, dan menggeliat. Menaruh kepalanya dengan malas di pundak kursi.

“Hutang? Bukankah itu seperti setangkai bunga yang kamu janjikan kepadaku tiga hari yang lalu?” Jawabnya dengan manja.

Ketika ia berbicara, beberapa helai rambut dari keningnya terjatuh ke pipi, memancarkan kecantikannya. Tanpa sadar, aku pun terpesona dan kehilangan kata.

“Mmm … Apa? Kita tadi membicarakan apa?” Jawabku sambil mengisap sebatang rokok. Merokok bisa menutupi kekagumanku akan kecantikannya. Dia tidak akan menyadari bahwa aku terpesona. Kupasang wajah yang paling cool.

Dia tidak menjawab, dan menggoyang-goyangkan kursinya. Kebiasaan sekali, pikirku. Tapi, aku tahu, itu tandanya dia sedang berpikir dan merenung. Dia memang selalu memerhatikan apa yang aku katakan. Betapa manisnya.
“Aku tahu, hutang itu kamu,” katanya sambil tersenyum manis.

Sesaat aku menatapnya dan pada matanya kulihat sejuta bintang bersinar. Hatiku merasa tenang ketika melihatnya. Tanpa sadar, aku menggerakkan tanganku untuk memegang wajahnya. “Dasar nakal,” kataku. Dia menghindar dan tanganku pun hanya meraih angin yang kosong. Angin bertiup, menembus pintu, dan pada balutan angin itu, kulihat figurnya yang langsing. Pasti aktivitasnya mempertahankan figur badannya tetap ideal.

“Hai, kamu tahu. Aku rasa, aku tahu apa maksudnya,” katanya sambil bersandar di tepi jendela.

Itu adalah tempat favoritnya. Bunga krisan yang ia letakkan di jendela, menampakkan padu padan yang cantik dengan kecantikan wajahnya.

Aku mengubah posisi duduk, karena aku tahu, pada saat ini, dia pasti akan mengungkapkan banyak kata filosofis.

Aku mematikan puntung rokokku dan duduk dengan manis. Kutatap dia, tepat pada matanya.

Dia tidak tersenyum. Untuk saat-saat serius, ia pandai mempertahankan keseriusannya.

Lalu, hening beberapa saat. Saat-saat seperti ini, merupakan saat paling terindah dalam hidupku. Pada sebuah ruangan yang hangat, dan seorang gadis yang kucintai.

Masih hening. Pasti dia sedang berpikir. Sembari dia berpikir, aku mengamati wajahnya. Dia tidak berubah.

“Kita harus menjadi sebuah kabar gembira kan?” Tanyanya sembari memancarkan binar ceria.

“Kabar gembira?” tanyaku.

“Iya .…” Dia menjawab.

Aku tersenyum.
Kupandang secangkir kopi di hadapanku. Pada permukaannya terpantul cahaya lampu.

“Seperti bintang …,” katanya lagi.

“Bintang apa?” Aku bertanya.

“Bintang di matamu ketika kamu tersenyum,” katanya sambil memasang muka lucu.

Aku pun tersenyum.
Padanya, aku belajar tentang sebuah kabar gembira. Seperti bintang. Ya, seperti bintang yang terang di hatiku.

Sejenak, aku memejamkan mata. Dan membukanya kembali. Kursi-kursi kereta dipenuhi oleh banyak orang yang sedang tidur.

Aku rindu.

Depok, 27 September 2020
21.27