Oleh Yeni Wulan

Sebelumnya, saya tidak pernah bercita-cita jadi guru Anak Usia Dini (AUD), karena merasa sulit berkomunikasi dan berekspresi dengan mereka yang cute, manis, dan lucu. Pada cerpen ini, izinkan saya berkisah sedikit untuk melukiskan gambaran kegiatan di sekolah bersama para manusia tanpa dosa.

Keunikan Profesiku, Bagaimana Denganmu?

Menjadi guru AUD zaman now harus memiliki keterampilan 3M (Multitalenta, Multitasking, dan Multimedia).

Multitalenta dan Multitasking

Teman-teman sering memplesetkan multitalenta dengan “multitalenan”, mungkin karena emak-emak yang setiap hari pergi ke dapur, jadi ingatannya sangat kuat terhadap “talenan”. Guru anak usia dini wajib menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan untuk mendukung profesinya, antara lain ilmu agama, ilmu psikologi perkembangan anak, ilmu pedagogik, ilmu bahasa dan seni. Pada kegiatan sehari-hari di sekolah, kami mengajar 6 bidang pengembangan, yaitu agama, sosial dan emosi, kognitif, psikomotorik, bahasa dan seni, sehingga dalam kegiatan di sekolah, peran pun dapat berubah-ubah sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan. Pada waktu bersamaan, kami dapat berperan menjadi guru, kadang menjadi ibu dan pengasuh. Saat istirahat, demi kesehatan anak-anak, kami bertugas menjadi ahli gizi yang memeriksa bekal anak, bergizi atau tidak, mengandung banyak vetsin, gula, pengawet atau tidak, snack-nya berlabel halal atau tidak. Jika ada anak yang membawa bekal kurang sehat, maka ibu guru membahas lagi tentang makanan halal, sehat, dan thayyib. Setelah acara kudapan selesai, lanjut menjadi satpam yang mengawasi anak-anak bermain di playground, agar semua anak aman dan terhindar dari kecelakaan. Saat anak berkegiatan di sentra, guru berfungsi sebagai fasilitator yang menyiapkan aneka media belajar, agar anak dapat bereksplorasi terhadap minatnya, membangun imajinasinya, dan mengembangkan semua aspek dalam dirinya. Saat anak bermain dan belajar, guru harus jadi asessor yang mengamati dan menilai perkembangan anak, dilengkapi dengan seperangkat alat tulis dan lembar tabel penilaian. Hari berikutnya, seorang guru AUD dapat berubah menjadi pendongeng, guru olahraga, guru matematika, ataupun guru sains.

Hal yang paling berkesan, saat kami yang kurang berbakat di bidang seni ini, dituntut menjadi guru seni rupa, tari, ataupun vokal/bernyanyi. Kebetulan para anak usia emas ini senang menggambar, menari, dan bernyanyi. Saat kegiatan menggambar, guru terkadang diminta untuk menggambar ayam, sapi, kambing, dan aneka bentuk lainnya, yang acapkali antara bayangan imaji di otak dengan goresan yang dituangkan tidak sesuai. Niat kami menggambar ayam, tapi malah jadi gambar burung, sehingga kami perlu untuk meng- up grade diri mengikuti pelatihan menggambar. Terlebih lagi saat bernyanyi, antara ritme, melodi, ekspresi, dan konteks yang tidak sinkron, maka terciptalah nyanyian yang melenceng dari tangga nada. Akhirnya, kami pun berinisiatif untuk belajar pitch control, tebak nada dan ritme, yang berujung pada karaoke-an.

Akhirnya, “di-asyik-in aja” segala kelemahan yang kami miliki.

Berdasarkan kurikulum, juklak, dan juknis, semua bidang pembelajaran itu pun harus dikemas dengan metode hands on experiences, agar melibatkan semua sensor inderawi, dengan tujuan agar semua panca indera berkembang optimal, berkesan panjang dalam memori otak. Less papers untuk berpartisipasi dalam go green cinta bumi. Kemasan wajib lainnya adalah menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, gembira dan menyenangkan, yang sering disingkat PAIKEM.

Coba bayangkan, saat hidup tak seindah drama Korea, saat kami sedang mengalami aneka rasa kehidupan, baik asam, manis, getir, dan pahit, nçtetapi profesi ini tetap menuntut ekspresi ceria, gembira dan menyenangkan sepanjang hari.

Apa yang harus dilakukan untuk menjaga ekspresi?

Seiring berjalannya waktu, kami belajar menata rasa dan hati, sehingga mendapatkan kiat istimewa untuk tetap tampil ceria gembira, yaitu saat memasuki gerbang sekolah, membaca “Bismillah, segera buang, lupakan, lepaskan semua problema yang berkecamuk di dalam dada. Lebarkan senyuman, tarik bibir simetri 2 senti kanan dan kiri, sapa semua anak dan orang tua. Alhamdulillah, mungkin ini menjadi berkah, kenapa, kami, ibu guru AUD, menjadi tampak awet muda (narsis).

Multimedia

Pembelajaran Jarak Jauh selama pandemi Covid-19 ini, guru AUD harus memiliki ketrampilan IT. Tidak hanya dapat mencolokkan kabel saja, tapi harus dapat mengoperasikan laptop, LCD, layar, sound system, dan menguasai aplikasi daring seperti zoom, google drive, google meeting, google classroom, IG, Fb, dan lain-lain. Saat pertemuan daring pun, guru harus mengelola kegiatan, bagaimana caranya agar anak tetap semangat, tertarik, termotivasi untuk belajar dari rumah. Profesi tambahan sejak bulan Maret ini adalah menjadi video maker program pembelajaran sekaligus harus menjadi artis dalam video tersebut. Saat take shoot pun harus mensetting latar agar tampak eye catching. Ketika kamera action pun harus bebas dari gangguan suara dan bayangan tambahan lainnya, dan seringkali diulang-ulang agar video memperoleh hasil yang maksimal. Berkah selanjutnya, dengan segala kelemahan dan keterbatasan yang kami miliki, guru AUD pun dapat menguasai teknologi informasi dan komputer.

Akhir cerita, alhamdulillah, puji syukur selalu kami panjatkan atas berkat rahmat dan kasih sayang-Nya, sehingga sampai detik ini, kami tetap semangat untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada murid-murid tercinta. Semoga Dia Yang Maha Kuasa meridai semua langkah kita. Aamiin.

Bandung, 23 September 2020