Oleh Novriyanti

Pada pertengahan malam Nisfu Sya’ban, ketika urusan hamba naik, rintik hujan turun menyambut. Seorang hamba duduk lama terdiam di hadapan Gerbang Kerajaan Yang Agung. Kelu lidahnya untuk berkata-kata.

Menjelang subuh, hujan turun semakin deras. Mungkin amal perbuatan hamba ini naik membawa panas api neraka, sehingga semakin besar hujan yang turun untuk mendinginkannya.

Malam Nisfu Sya’ban tahun ini jauh berbeda dengan malam Nisfu Sya’ban tahun lalu. Tahun lalu seorang hamba berbicara terus-menerus tentang dirinya, meminta ”ini” dan ”itu”, memohon ”ratusan ini” dan ”ratusan itu”. Ia terus berbicara sampai tertidur memasuki subuh. Malam ini seorang hamba malu untuk berbicara di depan Kerajaan Yang Agung, apalagi memohon sesuatu.

Ia berhadap-hadapan dalam hening. Sebaiknya, di malam ini biarlah Kerajaan Yang Maha Tinggi yang berbicara.

Memasuki sepertiga malam terakhir Nisfu Sya’ban, suara hujan kian keras terdengar, membuat seorang hamba semakin malu untuk berbicara tentang dirinya.

Di malam Nisfu Sya’ban tahun ini, Kerajaan Yang Maha Rahman berbicara, ”Mintalah sesuatu, niscaya akan dikabulkan.” Sang hmba tidak berani menjawab. Dia teringat dengan permohonannya di Nisfu Sya’ban tahun lalu. Saat itu Kerajaan Yang Maha Rahman berkata, ”Mintalah sesuatu, niscaya akan dikabulkan.”

”Ampuni dosa-dosa hamba, ya, Rabb,” jawab sang hamba.

Kerajaan Yang Maha Rahman kembali berkata, ”Mintalah sesuatu, niscaya dikabulkan.”

Perlahan mengalir permohonan demi permohonan. Hamba ini tidak lagi menunggu saat Kerajaan Yang Maha Rahman berbicara ”Mintalah sesuatu, niscaya dikabulkan” untuk tiap-tiap permohonannya, sebab ia terus saja meminta dan meminta, hingga tertidur dalam permintaannya. Sungguh, sangat memalukan. Tergesa-gesa ia dalam meminta.

Lalu, ia teringat sebuah ayat dalam Kitabullah, ”Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka, janganlah kamu minta kepada-Ku untuk mendatangkannya dengan segera.” (QS.[21]: 37)

Malam Nisfu Sya’ban tahun ini diam. Ia mengantarkan sang hamba sedikit pemahaman tentang permintaan kepada Kerajaan Yang Maha Kaya. Ia diam, membiarkan lembaran demi lembaran takdir antara Nisfu Sya’ban tahun lalu hingga Nisfu Sya’ban malam ini berbicara.

Di malam Nisfu Sya’ban tahun lalu, sang hamba meminta ini dan itu. Lembar permohonan yang sangat banyak. Lembar demi lembar permohonan dikabulkan. Dan, pada malam Nisfu Sya’ban tahun ini, lembar demi lembar kehidupan dibuka kembali, tanda demi tanda diperlihatkan satu per satu.

Di malam Nisfu Sya’ban, seorang hamba terdiam, ketika mendengar lembaran takdir berbicara. Sebuah lembaran berkata-kata, ”Wahai, hamba Tuhan Yang Maha Ilmu, ingatkah dalam setiap pengajian dengan Mursyid-mu, seringkali Beliau bertanya tentang sebuah ayat dalam Kitabullah, tentang memohon kepada Allah?”

Pada malam pengajian itu, Mursyid sang hamba berkata, ”Anak-anak, jika ingin sesuatu, mohon dong sama Allah. Allah ‘kan mengabulkan permohonan, tapi ada syaratnya. Coba dicari ayat berapa.”

Dalam kepala sang hamba tersimpan dengan baik ayat ke-186 Surat al-Baqarah. Di saat yang sama, seorang hamba menjawab dengan yakin, tetapi tanpa ilmu, ”Surat al-Baqarah ayat 186, Pak.”

”Betuul, pinter …,” Mursyid membenarkan sambil tersenyum. Beliau paham betul bagaimana menyemangati ”seorang anak kecil yang belajar berjalan”.

”Dan, apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. al-Baqarah [2]: 186)

Dan, malam Nisfu Sya’ban terhenyak. Ia teringat sebuah permohonan diberikan dengan segala kemudahan, tetapi dibalas dengan perbuatan yang melanggar perintah Allah Yang Maha Melihat. Seorang hamba meminta kepada-Nya, agar diberikan ini dan itu. Namun, dengan ringannya, hamba tersebut melanggar perintah untuk menjaga hati, pendengaran, dan penglihatan untuk tidak berbuat dosa dan maksiat. Betapa berat berjuang untuk taat dan patuh, meredam keinginan syahwat dan hawa nafsu, dan berjuang untuk kebaikan diri sendiri.

Malam Nisfu Sya’ban pun terdiam mendengar lembaran takdir lain berbicara. Sebuah lembaran berkata, ”Wahai, hamba Tuhan Yang Maha Ilmu, ingatkah dalam setiap pengajian dengan Mursyid-mu, seringkali engkau ditanya tentang sebuah ayat dalam Kitabullah tentang hati, pendengaran, dan penglihatan? Pada malam pengajian itu, seorang Mursyid berkata, ”Hati-hati dalam perbuatan, jangan mengikuti apa-apa yang tidak diketahui, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati dimintai pertanggungjawaban.”

Seperti biasa sang hamba hapal di luar kepala Surat al-Israa ayat 36, tetapi sayang, sedikit sekali ia memahami dan menaatinya dalam kehidupan.

“Dan, janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya, pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. [17]: 36)

Di malam Nisfu Sya’ban tahun lalu, seorang anak kecil yang belajar berjalan meminta ini dan itu, meminta disampaikan pada urusan ini dan urusan itu. Ia ingin berlari, bahkan berjalan di udara dengan kaki kecilnya yang berdiri saja masih belum lurus. Ini malam yang baik, Kerajaan Maha Kaya membuka semua Pintu Pemberian. Mintalah apa yang diinginkan. Tidak perlu malu, mumpung malam Nisfu Sya’ban. Kapan lagi ada kesempatan seperti ini? Jangan disia-siakan. Seorang budak kotor, bodoh, dan tidak malu dengan keadaan dirinya meminta ini dan itu sepanjang malam pada Nisfu Sya’ban tahun lalu (2009).

Dan, malam Nisfu Sya’ban pun terdiam mendengar lembaran takdir lain berbicara.

“Sesungguhnya, Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka (mereka) semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya; dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya, manusia itu amat zalim dan amat bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan, sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. [33]: 72)

Jakarta, 15 Sya’ban 1431 H ( 27 Juli 2010)