Oleh Ais İrmawati

Ada seorang teman sepermainan (grup peer) yang terkonfirmasi positif Covid-19. Dia seorang yang baik hati, penyayang, dan suka menolong, bahkan tanpa diminta sekalipun. Karena sikapnya yang manis tersebut, maka selain pengobatan dari dokter, teman-teman berusaha menawarkan aneka pengobatan alternatif, mulai dari minum madu, tanaman obat, sampai pada hal meminta doa dan amalan dari seorang kyai.

Kyai atau ustadz adalah sebutan untuk seorang guru mengaji yang dipercaya mempunyai hubungan yang dekat dengan Allah Swt., terbukti dengan doa-doanya yang dikabulkan. Tentu saja karena beliau seorang yang patuh menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Banyak orang, bahkan yang datang dari luar kota, minta didoakan, agar anaknya lulus ujian, diterima kerja, mendapat jodoh, sampai mendoakan orang tua yang sakit.

Berkaca dari track record pengalaman keberhasilan orang-orang yang didoakan, maka teman-teman mengutus seseorang, katakanlah bernama Adi, untuk mengunjungi kyai tersebut.

Setelah memperkenalkan diri, beramah-tamah, dan beristirahat sebentar, Adi langsung mengutarakan maksud kedatangannya.

Pak Kyai dengan ramah menyatakan keheranannya kepada Adi.

Kyai: Saya harus berdoa apa, Nak Adi?

Adi: Mendoakan teman yang positif terkena Covid, Kyai

Kyai: Doa Apa? Umur manusia ‘kan sudah ditentukan. Coba dilihat lagi Surat Al A’raf ayat 34:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

QS. [7]: 34: “Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”

Adi tertunduk, sambil berkata, “Mohon diringankan sakitnya, Pak Kyai.”

Kyai: Apa Nak Adi belum pernah mendengar hadis Nabi saw.,

مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ، حَتَّى الْهَمُّ يُهِمُّهُ؛ إِلاَّ يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ

“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu, melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.” (HR. Muslim no. 2572)

Kyai: Nak Adi, kalau karena tertusuk duri saja menjadi sebab dihapuskannya dosa, maka kalau kita sabar menghadapi penyakit yang berat, tentu kebaikannya bertambah banyak. Berobat ke dokter tetap harus dilakukan sebagai upaya lahiriah menerima tamu sakit yang Allah Swt. hadirkan. Namun, secara batin, kita tidak boleh mengeluh. Jalani saja prosesnya, nikmati rasanya sambil merenungi betapa besar nikmat sehat yang sudah Allah beri dan kita lalai mensyukurinya. Percayalah, Nak Adi, pasti ada yang ingin Allah bersihkan dari sakitnya temanmu itu. Apa lagi ‘kan kamu bilang dia orang yang baik. Dengan sakitnya, bisa jadi Allah ingin menyempurnakan kebaikannya.

Kalau Nak Adi menginginkan saya berdoa untuk menghilangkan sakitnya, maka itu sama saja Nak Adi menginginkan dia tidak mendapat kebaikan yang terjadi akibat kesabarannya menghadapi sakitnya itu.

Kyai: Nak Adi, ini bukan soal mau mendoakan temanmu atau tidak, tetapi saya mempunyai kewajiban untuk meluruskan tauhidmu, yaitu tauhid merupakan konsep dalam ajaran Islam yang menyatakan keesaan Allah.

Adi: Baik, Pak Kyai, maafkan saya.

Kemudian Adi diantar pulang sampai ke gerbang pintu rumah oleh Pak Kyai sambil membawa oleh-oleh yang lebih besar daripada “hanya” sekadar doa Pak Kyai.