Oleh Prihastri Septianingsih

Dua hari berturut-turut Indonesia diguyur siraman air hujan. Bumi yang lama dalam keadaan kering dan udara yang panas, alhamdulillah menjadi sejuk dengan guyuran air hujan yang turun cukup deras.

Suatu kebersyukuran dan kegembiraan atas nikmat yang Allah Swt. berikan bagi bumi tercinta, Indonesia, karena hampir bersamaan di sebagian belahan bumi Indonesia ini terbasahi oleh derasnya hujan.

Kebahagiaan yang dirasakan oleh sebagian hamba-Nya, ternyata menjadi duka untuk sebagian yang lain.

Bahagia bagi yang mendapatkan siraman hujan sesuai dengan kebutuhannya, tetapi menjadi duka dan ujian bagaikan suatu musibah bagi sebagian yang lain.
Tidak diduga, curah hujan yang berlebih, lalu lingkungan yang dilanda banjir, bahkan banjir bandang yang memilukan hati.

Jeritan hati dan keluhan pun bersamaan menggema, tetapi siapa yang akan disalahkan? Allah-kah, sebagai Zat yang menurunkan hujan? Ataukah manusia yang kurang peduli terhadap lingkungan?

Kiranya itu bukanlah suatu hal yang perlu untuk dipermasalahkan lagi. Yang pasti, tidaklah Allah berbuat sesuatu kecuali ada hikmah bagi makhluk-Nya. Manusia sebagai hambalah yang harus menyadari akan kesalahan dirinya, karena tidak menjaga keseimbangan lingkungan dengan baik, kurang membuat perhitungan ketika membuat tempat tinggal, dan terlalu pasrah pada hal yang harusnya bisa dia usahakan.

Manusia harus banyak belajar dari apa yang telah Dia hadirkan, jika ia mau mawas diri.

Mungkinkah Tuhan mulai bosan melihat tingkah hamba-Nya, yang selalu berbuat salah dan bangga atas dosa yang tidak disadari dan disadarinya?
Ataukah alam mulai enggan bersahabat dengan manusia? Lalu, kepada siapa kita harus bertanya?

Itulah perlunya manusia mencari Guru sejati, seorang suci yang dapat memberikan bimbingan dan tuntunan dalam menempuh kehidupan ini–tuntunan untuk dapat mengetahui bagaimana menyikapi kehidupan ini, mengetahui untuk apa hidup dan tujuan akhir dari kehidupan ini.

Kiranya hanya orang yang beruntunglah yang bisa mendapatkannya, bak sebutir debu di tengah lautan pasir yang dipungut Tuhan dan ditempatkan dalam jalan-Nya.

Apakah kita? Tak ada pula yang bisa menjawabnya. Bak ungkapan seorang penyair, “Cobalah bertanya kepada rumput yang bergoyang.”

Makassar, 22 September 2020