Oleh Moch. Sya’ban Suwargana

Aku malas menulis,
bahkan ketika penaku tergenggam, di atas mulusnya helai kertas.

Takutkah menodainya ?
Tidak, tidak sama sekali, harianku bersahabat dengannya, licinnya permukaan, putih tanpa bercak noda, begitukah rasa sayangmu timbul ?

Sentuhan bola-bola ujung pena begitu mengguris mesra, hasratnya mendaki naik turun, berhenti dan berlari.

Tapi, di hari ini,

Tak dijangkau tadah-tadah hujan
mengeras tanah belah, menjulurkan lidah kehausan.

Air minum bukan air mata.

Lidahku pahit,
Jemariku berubah akar yang mengeras
Meraup genggam tanah.

Si buyung menangis keras-keras.
Hampa,
Gaun-gaun melayu tidak terikat erat-erat
menyelorot.
Gagah gegabah cara
Walau sepundi emas,
Melepuh lara terhias hingar-bingar.

Tuhanku,
Dadaku penuh peluh
Kelu, beronggokan batu-batu menahan zahar.

Aku tak bisa menulis, kawan.