oleh Ais Irmawati

Pekerjaan emak-emak di rumah kalau dituruti tiada hentinya, dari pagi sampai malam hari.

Pekerjaan kantor, khususnya di akhir tahun begini, juga seru. Virtual meeting sana-sini, mengerjakan tugas ini itu, yang juga sering membuat lupa waktu, apalagi kalau pekerjaannnya “gua banget”. Bisa membaca menulis tanpa gangguan, itu sudah surga banget, walaupun tanpa dibayar.

Eh, ini sudah dapat surga, dibayar pula, walaupun sering juga lupa angkanya. Ha ha ha. Karena seperti biasa, uang itu hanya “nyangkut” sebentar saja, ups ….

Sementara itu soal anak. Nah, itu … tanpa kita perhatikan, anak itu bisa tumbuh besar sendiri, kok. Asalkan diberi makan yang baik. Bagi sebagian orang tua, bahkan memilih menyekolahkan anak di tempat favorit, yang banyak piala berjajar di ruang kepala sekolahnya, sambil diikutkan segala macam les. Dan, mereka sudah cukup merasa aman. Masa depannya akan cemerlang, insya Allah. Begitu pemikiran mereka.

Di sekolah, melalui guru Pelajaran Agama Islam, anak diajarkan doa:

رَّبِّ اغْفِرْلِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً

“Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama Rabbayani shaghira.”

Artinya:

“Ya, Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.”

Lalu, pengabulan doa seperti apa yang kita harapkan, bila kita terlalu sibuk, sehingga tidak sempat menyayangi anak seperti bayangan anak tentang kasih sayang?

Tentu kita tidak ada orang tua yang (mau disebut) “abai” terhadap anaknya. Buktinya, orang tua sibuk:

1) mencari nafkah, agar kebutuhan sang anak (yang selalu tampak kurang) dapat terpenuhi.

2) mengingatkan anak untuk belajar, bahkan kadang marah dan memukul, terlebih saat BDR (belajar dari rumah).

3) menyediakan segala fasilitas yang mungkin disediakan.

Ketika anak sedang hebat, banyak orang mengelu-elukan. Namun, ketika anak terpuruk atau gagal, ia sungguh sangat membutuhkan dorongan dan pelukan dari orang tuanya. Bukan omelan apa lagi pukulan.

Tugas rumah dan kantor dapat ditunda atau didelegasikan kepada orang lain. Kasih sayang orang tua yang didamba anak, kalau bukan kita yang menyediakan, akan banyak pihak lain yang bersedia membantu dan “membantu” juga.

Namun, itu berarti bahwa doa yang dilantunkan anak untuk orang tuanya tidak lagi layak kita terima, tetapi lebih layak bagi orang yang dianggap sebagai orang tuanya, tempat dia merasa nyaman dan aman ketika sedang bersama.

Sebelum terlambat, marilah kita membersamai anak kita, buah hati-buah hati yang terlahir sebagai titipan-Nya, akibat “perilaku” kita. Banyak orang yang tidak dianugerahi anak. Apakah kita ingin menyia-nyiakan kehadirannya?

Pilihan ada di tangan kita, orang tuanya.

Jakarta, 21 November 2020