oleh Pepi Ramayati

Tidak seperti peran seorang artis atau aktor yang tampil di layar kaca, sesekali aktor boleh berperan mengambil hati penonton. Akankah sang aktor mengambil peran yang pada akhirnya happy ending atau sad ending bagi penonton? Mungkin demi hal itu, sang aktor bisa berunding dengan sutradara.

Peran di kehidupan nyata hanya semata-mata menjalankan takdir ataupun kisah demi memahami kehendak-Nya. Sudah selayaknya seorang pejalan bersikap penyayang dan pemaaf terhadap sesama. Di dalam mengambil sikap inilah, sang pemain justru berperan nyata, terhanyut oleh sebagian peran yang sedang dimainkan.

Alih-alih ingin mengambil hati Sang Sutradara, malah terjebak atau terlena dalam meraih hati penonton (orang sekitarnya).

Bagaimana caranya agar setiap pemeran menikmati perannya tanpa mendengki sesama pemain, tanpa menyalahkan alur cerita yang telah dirancang sutradara? Pemeran nyata akan bekerja semata-mata bukan demi bayaran tinggi dari produsen, bukan pula ingin meraih hati penggemar atau penontonnya, tetapi demi meraih rida-Nya, rida Sang Sutradara sekaligus Produsen.

Aktor semacam ini tidak perlu popularitas. Kepandaian aktor dalam memainkan peran harus mencuri perhatian Sutradara dalam semua hal, yaitu perlengkapan dan berbagai macam kebutuhan aktor tersebut, yang sudah lebih dulu disiapkan jauh sebelum aktor itu ada.

Panggilan akrabnya “Maryam”. Dia berperan sebagai istri dari seorang karyawan biasa. Maryam harus setia mendampingi suami, bagaimana pun perangai suaminya. Kisah pernikahan yang terus diwarnai oleh perselingkuhan, membuat Maryam harus tetap membuktikan kesetiaannya.

Kalau dikatakan istri setia, suami baik-baik saja, tentu saja hal yang sangat biasa.

Maryam, istri yang sangat tangguh, berani ambil resiko, mandiri, cerdas, kreatif, terbuka, jujur, apa adanya.

Sekian puluh tahun ujian hidup yang pahit telah dilaluinya. Tibalah ia di satu persimpangan. Ia harus memilih berjalan ke arah kanan ataukah kiri. Ia harus belajar melepas semua keinginan dirinya, menyerahkan diri sepenuhnya kepada yang Maha Kuasa, sikap yang paling efektif dalam memahami apa kehendak-Nya.

Ia sangat berhati-hati. Diam, mundur pelan-pelan, langkahnya dipenuhi untaian doa, permohonan petunjuk kepada Sang Maha Kuasa untuk menjalani episode berikutnya.

Suaminya telah lama mengkhianatinya. Namun, ia yakin Sang Pemilik Kisah hidupnya yang senang memberi kejutan, tidak akan mengkhianatinya. Maryam berusaha bersangka baik bahwa kisah pahitnya adalah sekadar kemasan pada kado terindah-Nya. Pada akhirnya, Maryam bersaksi bahwa tidak ada pengkhianatan yang dirasakan selama mendampingi suaminya, kecuali kebahagiaan lewat hikmah kehidupan yang Allah Ta’ala gelar.

Kisah Siti Maryam, calon penghulu surga, yang sempat putus asa saat menjalani kehamilannya, pada akhirnya merasakan kehadiran Tuhannya yang “bekerja” menyelamatkan kehormatannya.

Bandung, 19 November 2020