Oleh Pepi Ramayati

Seperti biasa, sepulang saya mengantarkan makanan, pesanan sahabat, saya mendapat oleh-oleh yang membuat saya jadi lebih mensyukuri apa yang Allah hadirkan hingga hari ini.

Bukan Perjodohan Siti Nurbaya

Sebut saja “Riri”, ibu muda yang sedang hamil, berbadan subur, usianya baru menginjak 18 tahun an. Ia lahir tiga bersaudara dengan berbeda ayah.

Obrolan diawali dengan bahwa bumil (ibu hamil) muda ini butuh pekerjaan. Usia pernikahannya baru lima bulan. Selama ini bekerja menjualkan es krim milik orang lain dengan upah bulanan tujuh ratus ribu rupiah dari pagi hingga sore, libur satu hari.

Lokasi ia berjualan satu tempat dengan suaminya bekerja, yaitu di tempat penyucian mobil.

Begitulah cerita pembuka Riri. Saya cukup menyimak saja dengan sepenuh hati.

Tanpa bermaksud nyinyir, dengan tersenyum saya mengatakan, “Bumil enggak usah repot-repot kerja, nikmati saja bulan madunya, momen romantisnya bersama suami.”

Lalu, Riri membalas senyuman dengan manisnya, “Enggak ada bulan madu, enggak ada yang romantis, Teh.”

Saya langsung tertegun kaget, “Lho, masa iya? Lima bulan menikah lagi seneng-senengnya, ‘kan?”

Lalu, mulailah Riri bercerita bagaimana kisah pernikahannya.
Dia mengenal calon suaminya lewat Facebook selama dua bulan. Empat bulan mereka sudah kenal off air. Semua data diri calon suaminya di Facebook, tidak sama dengan kenyataan. Suaminya ternyata lulus SD dan belum punya pekerjaan tetap.

Lantas, begitu hubungan mereka diketahui ibunya Riri, sang ibu pun mempercepat pernikahan mereka. Sedangkan Riri, KTP saja belum punya.

Ibunda Riri menikahkan Riri dengan menghabiskan biaya yang boleh dibilang tidak sedikit.

Pola asuh sang ibu kepada Riri termasuk kasar. Saya mendengarnya seperti kisah sinetron berjudul “Ibu Tiri yang Kejam”. Padahal, beliau adalah ibu kandung. Sang ibu tidak mendukungnya untuk melanjutkan sekolah menengah. Bisa dibayangkan kesedihan Riri betapa tidak merdekanya dirinya, ingin sekolah saja hanya bisa menangis melihat teman-temannya berseragam abu-abu.

Bergumam dalam hati saya, “Kok masih ada orang tua yang model begini, ya?” Padahal, mereka tidak tinggal di desa pedalaman.

Hak anak yang masih harus bersekolah, dipaksa untuk segera menikah. Ironisnya, sehari sebelum menikah, Riri baru sadar akan identitas palsu calon suaminya.

Yang membuat saya cukup geram juga, mengapa bapak penghulu menikahkan anak di bawah umur, hingga surat menikah pun tidak diberikan?

Salah siapakah ini? Salah pola asuh orang tuakah? Salah teknologi? Bukan!
Salah petugas KUA?
Salah semua pihak?
Yang jelas, semua bukan salah Tuhan (Allah Ta’ala).

Riri menghadapi perangai suaminya yang kasar, pemarah, dan sangat mudah berucap, “Kamu saya kembalikan ke orang tuamu!”

Suaminya mendapat jatah makan siang. Sang suami dengan lahapnya menikmati makan tanpa meraba perasaan istri yang sedang hamil di sampingnya. Menjaga dagangan es krim yang terkadang sepi seharian tidak ada pembeli.

Riri memilih jalan untuk belajar memaafkan, karena baginya tidak ada pilihan. Dia bersama ibunya pun hidup bagaikan burung di dalam sangkar.

Sahabat, adakah yang ingin bertukar takdir dengan Riri ini?

Mengapa jalan ceritanya harus begitu memilukan. Sehari bisa makan satu kali saja masih bersyukur alhamdulillah.

Bagi Riri, bercerai itu berat, melanjutkan berumah tangga pun sungguh sama beratnya.

Dia mengatakan bahwa ingin sekali bisa mengikuti paket C, saking menggebunya ingin bersekolah.

Tak dapat lagi saya berkata-kata setiap kali bertemu ibu muda yang sedang hamil. Doa ibu yang sedang hamil lebih mudah dikabulkan. Sungguh, saya tidak pantas mengatakan, “Riri yang sabar, yaa!”, karena saya merasa bukan orang yang penyabar. Saya hanya mampu mendoakan yang terbaik baginya.

“Riri, semoga Allah memperbaiki urusan rumah tanggamu, dimudahkan rezeki lahir batinmu. Semoga dengan lahirnya sang bayi nanti, Allah sematkan cinta kasih yang tulus kepadamu, suamimu, bersama bayimu. Allah Sang Pemilik Skenario, teruslah memohon pertolongan-Nya.

Riri, aku suka senyummu. Sehat selalu bersama bayimu, lancar, selamat, hingga lahir nanti.”

Terima kasih, Tuhan. Lewat Riri, Engkau telah mengingatkan saya untuk bersyukur.

Bandung, 1 Desember 2020