Oleh Novriyanti

“Pada dua pertiga malam dalam tarikan dan embusan nafas Ar-Rahman.”

Mentari senja hadir beberapa hari yang lalu.
“Bukankah dia selalu hadir?” tanya titik embun.
“Mungkin dia malu dan bersembunyi di balik diriku,” jawab segumpal awan putih.

Titik embun kembali bertanya,
“Kenapa harus malu? Bukankah dia begitu besar dan indah?
Pagi ini aku merasa begitu indah karena sinarnya.”
Setitik yang berayun di ujung daun menari
dan tersenyum.

“Mengapa kamu begitu riang?” tanya segumpal awan putih.
“Ada cahaya mentari dan embusan angin bermain bersamaku,” jawab titik embun.

“Menari dan bergembiralah … karena kehangatan dan embusan tidak akan kaudapati setiap saat.”
Si Bijak daun berkata pada titik embun.

Ini adalah hal biasa dan lumrah,
bahwa titik embun akan terus menari dengan senangnya.

“Sampai ia lupa dengan keberadaannya.”

Titik embun akan hilang bersama semesta dalam kegembiraan.

Bagi titik embun, tidak masalah apakah ia akan terbang bersama cahaya mentari
ataukah jatuh bersama embusan angin.

Karena sesungguhnya,
titik embun itu menghilang dalam “Tarian yang Menggembirakan”.

Jakarta, 26 November 2020