Oleh Arif Budiman

Dalam kondisi ekstase pada puncak fana billah-nya,
Al-Hallaj, dengan penuh kesadaran jiwa mengucapkan perkataan “Ana Al-Haq”,
ucapan yang sedemikian meyakinkan tanpa sedikit pun ada keraguan.
Ucapan yang menggetarkan sekaligus menggemparkan.
Ucapan yang tidak lain ialah percikan nyala pelita hatinya,
serta terpaan cahaya kesadaran Ilahi yang membumbungkan jiwanya.
Rupanya, ucapan itu juga yang menjadi awal dari malapetaka cinta yang menerpa,
dan menjadi kidung pengantar takdir menuju penghujung riwayat hidupnya.

Mulanya, ketika ia menerima kabar akan diadakannya perjamuan suci di Istana Ilahi,
segeralah ia mempersiapkan hati dan jiwa, kalau-kalau ia menjadi yang terpilih
untuk menghadiri perjamuan itu.

Benar saja, Sang Ilahi memilihnya, dan ia pun menyambut dengan penuh sukacita.
Selembar undangan Ilahi pun ia terima melalui perantara
utusan bergelimang cahaya, terpana ia seolah tak percaya.
Bak sehelai daun yang gugur dari sebuah pohon langit,
syahdu, undangan itu jatuh di keluasan taman hatinya
yang semarak dengan bunga-bunga cinta
dan sarat dengan wewangian kerinduan.

Maka, selayaknya hari raya, ia menyambut dan menyongsong
hari perjamuan
tiada henti mengumandangkan senandung
takbir, tahlil, tahmid, serta selawat demi selawat
kerinduan kepada Sang Pujaan.
Derai-derai airmata memancar dari mata-air mata cemaranya,
tumpah mengaliri lereng kedua pipinya, kemudian jatuh menimpa sehelai daun,
serupa tetes embun di sela kelopak sekuntum bunga yang ranum
diterpa oleh cahaya matahari pertama.
Seperti itulah ranum pada pipinya yang menyiratkan betapa gelisah
dan malunya ia kelak jika dihadapkan pada perjumpaan
dengan Sang Kekasih pujaan.

Dalam hati ia kemudian menyapa Sang Pujaan,
“Duhai, Engkau, Sang Pemilik undangan, katakanlah, apakah tebusan
atas selembar undangan yang telah Engkau kirimkan?
Duhai, Engkau, Sang Penghendak pertemuan, sampaikanlah, apakah harga
atas pertemuan yang telah Engkau janjikan?
Wahai, Engkau, Sang Tuan rumah perjamuan, bisikkanlah, hidangan seperti apakah
yang nanti akan Engkau hidangkan di meja perjamuan?

Duhai, jika tebusannya adalah berupa hidupku, maka ambillah, karena sepenuhnya
hidupku telah kupersembahkan hanya kepada-Mu.

Duhai, jika bayarannya adalah berupa kematianku, maka segerakanlah, karena bagiku
hidup sudah serasa seperti kematian, jika awal dan akhirnya mesti kulalui
tanpa sekali pun berjumpa dengan-Mu,
dan tanpa sekejap dapat memandang indah wajah-Mu.”

“O, Labbaikallahumma Labbaik … Labbaika Laa Syarika Laka Labbaik …,”
teriaknya kian membuncah.
Lihatlah, sang pecinta datang dengan penuh kesungguhan
dan keseluruhan, serta dengan penuh penghadapan.
Tak dihiraukannya lagi hal yang lainnya, karena baginya,
selain dari diri-Nya hanyalah hijab belaka.
Lihatlah, sang pecinta melangkah dengan penuh kesadaran
dan keyakinan, serta penuh ketakziman.
Tak dipikirkannya lagi hal yang lainnya, karena baginya,
selain dari diri-Nya hanyalah semu belaka.

O, lihatlah, Sang Kekasih menyambutnya, seraya menghidangkan
secawan anggur merah delima sebagai pertanda cinta
dan sambutan kepada sang pecinta.
Duhai, lihatlah, meski Sang Kekasih hanya menghidangkan anggur
tanpa secawan susu, sang pecinta tetap dalam adabnya,
karena sepenuhnya ia sadar dengan kedudukannya.
Bahwasanya ia sedang berada dalam ketetapan tanpa pilihan: anggur atau susu.
Tidak ada pilihan memang, selain hanya menyantap apa yang telah dihidangkan
Sang Kekasih di meja perjamuan.

Di bawah tajamnya tatapan Sang Kekasih,
ditenggaknya anggur dengan gugup dan penuh degup.
Sesaat ia merasa gentar dan penuh getar,
ditenggaknya anggur dengan khusyuk dan penuh sabar.
Perlahan tatapan Sang Kekasih berubah syahdu dan melegakan.
Meski demikian, tatapan Sang Kekasih
tetap saja terasa dalam dan begitu menghunjam.

Tenggak demi tenggak anggur kian terasa hangat mengalir,
bagai tetes zaitun yang menyulut pelita,
serta memantik nyala penuh cahaya.
Seketika jiwanya melesat ke langit ketiga
melewati maqam demi maqam para pecinta.
Di sana, ia dapati ruh-ruh saling berbaris dan ia pun tersenyum manis.
Semanis senyumannya ketika melihat jiwa-jiwa para pecinta,
saling menghidangkan cawan-cawan cinta yang begitu lama ia dambakan.

Maka, jatuhlah ia pada tingkatan kesadaran jiwa
yang membuatnya merasa begitu mabuk kepayang,
dan menjadikan dirinya sebagai pecinta yang malang.
Sebab, Sang Kekasih tiba-tiba pergi dan menghilang,
sendirian ia kini dalam kelambu,
kesepian.
Bak pengantin perempuan yang ditinggalkan pengantin lelaki
tanpa sebuah pertanda dan kejelasan.
Yang tertinggal hanyalah seberkas tatapan Sang Kekasih
yang masih terpatri pada dinding hati.
Dan, yang tersisa hanyalah semerbak kerinduan
beserta wewangian Sang Kekasih yang menyeruak
memenuhi segenap ruang intisari.

O, betapa perpisahan yang mengejutkan itu membuatnya limbung dan linglung
di hadapan mereka yang bingung dengan setiap perkataan dan perbuatannya.
Dan, betapa keterpisahan itu telah membuatnya dilanda amuk rindu yang tak berkesudahan.
Hal itu semata karena ia telah sampai ke dalam fase cinta yang sedemikian dalam.
Sehingga, setiap sesuatu yang terlihat olehnya, hanyalah Dia,
yang terdengar olehnya hanyalah nama-Nya,
dan yang terasa baginya hanyalah tentang-Nya.
Serta, setiap sesuatu yang ia tuju demi menemukan-Nya semata.
Dan, bahkan pada segala sesuatu dalam ada dan tiada baginya
hanya ada Dia, selain Dia adalah tiada.

Al-Hallaj, dalam perjalanannya menemukan kembali jejak Sang Kekasih,
membawanya pada sebuah ketetapan yang membuat ia mesti berhenti berjalan.
Sebab, telah datang baginya waktu penebusan dan saat penghakiman.
Dan, tidak ada pilihan, sama halnya ketika Sang Kekasih
hanya menghidangkan anggur tanpa secawan susu,
ia paham betul, jika selembar undangan yang telah ia terima,
tak lebih dari sekadar undangan kematian baginya.
Dan, anggur yang telah habis ia sesap,
mesti ditebusnya dengan darah yang tertumpah.

Telah usailah segala sangsai, telah sampailah di ujung kata selesai.
Palu takdir kematian telah diketuk di meja hijau-Nya,
menjadikan Al-Hallaj sebagai terdakwa di pengadilan cinta
atas semua pernyataan cintanya di dunia.

Dan, Al-Hallaj divonis mati, agar lekas kembali
berjumpa dengan Sang Kekasih hati.

Di bumi, Al-Hallaj menjalani kematian yang sungguh tidak manusiawi,
tetapi di langit, ia disambut sebagai seorang Kekasih sejati.
Dan, lihatlah, Sang Kekasih menghidangkan untuknya secawan susu murni,
sebagai pertanda ia kembali dengan hati murni dan jiwa yang suci.

Inna lillahi, Al-Hallaj mati sebagai martir Ilahi.
Wa innailaihi, Al-Hallaj kembali sebagai kekasih Ilahi Rabbi.

Air Raja, Oktober 2020 s/d Januari 2021