Oleh Prihastri Septianingsih

Rasanya lama gak pernah lagi mendengar orang menyebut nama itu. Namun ternyata, istilah itu masih digunakan.

Kejadian itu terjadi di sebuah mini market. Ketika itu tanpa direncanakan, saya dalam perjalanan mengendarai motor, terpaksa singgah di situ, karena tiba-tiba turun hujan. Sambil sekalian, deh, saya mencari-cari kebutuhan dapur.

Setelah masuk dan mencari bagian bumbu, akhirnya saya mendapatkannya. Namun, tiba-tiba pandangan bawah mata saya tertumbuk pada biskuit kaleng jajanan kesukaan masa kecil dulu, biskuit Khong Guan.

“Tapi, enggak ah, bawanya repot,” pikir saya.

Selesai mendapatkan kebutuhan, saya mengantri di kasir. Di sana sudah ada dua orang yang juga sedang mengantri.

Akhirnya, sampai pada giliran seorang bapak yang persis berada di depan saya.

Sambil melihat barang belanjaannya dihitung, si Bapak bertanya pada kasir, “Dek, apa ada roti kaleng di sini?” Spontan saja gadis petugas kasir itu menjawab, “Oh, tidak ada, Pak.”

Mendengar hal itu, saya tersenyum dan berkata, “Apakah Bapak mencari biskuit Khong Guan?” Si Bapak pun menjawab, “Iya, betul.”

Lalu, saya katakan pada beliau dan petugas kasir itu, “Oh, ada, Pak, di sebelah sana.” Saya menunjuk ke arah letak biskuit itu.

“Maaf, Dek, kamu pasti enggak tahu, ya, kalau roti kaleng itu maksudnya biskuit.”

Sang kasir meminta maaf dan mengatakan bahwa ia tidak mengerti. Bapak itu pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Ia pergi mengambil roti kaleng yang dicarinya. Aku bergumam dalam hati, “Rupanya ini hikmah kenapa saya harus mampir ke supermarket ini. Alhamdulillah, terima kasih, ya, Allah.”

Setelah membayar belanjaan, aku pun berlalu dan kembali ke rumah. Ternyata hujan masih belum berhenti.

Makassar, 22 Januari 2021