Oleh Fathonah Fitrianti

Wahai, diri
Setelah rezekimu kini
Mengalir, lancar, atau bahkan melimpah
Setelah masalahmu kini
Terselesaikan dan keadaan menjadi baik
Setelah hati yang keras dan tertutup kini
Melembut dan terbuka

Setelah kesempitan kini
Berubah jadi kelapangan
Setelah kesedihan kini
Berubah jadi kebahagiaan

Siapa/apa yang kauanggap mengubah keadaan?
Siapa/apa yang kauanggap memberi hasil?
Siapa/apa yang kaupuji?
Siapa/apa yang kau agungkan?
Siapa/apa yang kau takjubi?

Apakah idemu?
Apakah kemampuanmu?
Apakah kebaikanmu?
Apakah ibadahmu?
Apakah usahamu?
Apakah teknikmu?
Apakah kepandaianmu?
Apakah dirimu?
Ataukah Dia?

Akankah kau tetap menyeru-Nya?
Akankah kau tetap mengandalkan-Nya?
Akankah kau tetap bersandar pada-Nya?
Akankah kau tetap mengagungkan-Nya?
Akankah kau bersyukur pada-Nya?

Sungguh, tiada yang kau miliki
Selain yang Dia karuniakan
Sungguh, tiada yang lancar
Selain yang Dia mudahkan
Sungguh, tiada perubahan
Selain yang Dia izinkan
Sungguh, tiada hasil
Selain yang Dia berikan

Ya, Allah
Inspirasi, kebaikan hati, keringanan beribadah,
Kesehatan, kekuatan, kemampuan
Semua karunia-Mu, titipan-Mu
Tiada patut aku bangga diri
Karena aku tak memiliki semua itu
Kaulah Pemiliknya, aku hanya dititipi-Mu

Ya, Allah
Usahaku, kemampuanku, ideku
Bisa membawa hasil baik atas izin dari-Mu
Semua kelancaran
Atas kemudahan dari-Mu
Tiada patut hamba sombong
Atas semua itu

Ya, Allah
Segala puji hanya milik-Mu
Pada-Mulah aku merasa takjub
Tetap pada-Mulah aku menyeru
Tetap pada-Mulah aku bersandar

Bandung, 29 Januari 2021

“Maka, apabila manusia ditimpa bencana, dia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan nikmat Kami kepadanya, dia berkata, “Sesungguhnya, aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya, itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
QS. az-Zumar [39]: 49