Oleh Fathonah Fitrianti

Pasanganmu adalah cermin bagimu
Apa yang terlihat dari pasanganmu
Bisa jadi merefleksikan kondisimu

Saat kamu merasa tidak didengar
Bisa jadi itu petunjuk bahwa
kamu belum menjadi pendengar
yang baik baginya
Mungkin kamu merasa selalu mendengarkannya
Namun, belum tentu dia merasa demikian

Saat kamu merasa dia egois
Bisa jadi itu petunjuk bahwa
kamu telah mendatanginya dengan egomu
Hingga, yang terpancing darinya
ialah egonya
Mungkin kamu merasa diri sangat tidak egois
Bahkan, selalu mengalah
Namun, rasakan di lubuk hatimu
Adakah egomu di sana?
Rasa tak ingin kalah
Rasa memegang harga diri di atas hati
Rasa kukuh dan angkuh
Rasa berkilah tak ingin mengakui ada salah
Rasa hati yang terpancar
Melalui nada dan bahasamu

Saat kamu merasa tidak dihargai
Bisa jadi itu petunjuk bahwa
dia merasa tidak dihargai,
merasa tidak diterima,
apalagi diapresiasi
Perhatikan apa responmu saat dia
Mengungkapkan idenya
Mengutarakan perasaannya
Menceritakan yang dialaminya
Memberikan arahannya
Menyampaikan kebutuhannya
Menunjukkan hasil kerjanya

Adakah dalam hatimu
terbetik rasa, “Dia payah”
Hingga, dalam lisanmu terpancar
Pesan merendahkan
Pesan menyepelekan
Pesan yang ‘kan tertangkap
bahwa dia tidak berharga

Saat kamu merasa tidak disayangi
Bisa jadi itu petunjuk bahwa
dia merasa tidak disayangi
Kamu pikir dialah yang berubah
Yang dia rasa, kamulah yang berubah
Dari penerimaan jadi keluhan
Dari senyuman jadi kejutekan
Dari pujian jadi merendahkan
Dari pengertian jadi serbuan tuntutan
Kamu anggap dengan sikapmu,
dia jadi tahu
dan memperbaiki diri

Yang ada ialah sakit hati
Mengikis ikatan hati

Kembali amati, kembali cermati
Setiap akhlakmu padanya
Semua memancarkan rasa hatimu
Semua memancarkan prasangkamu
Semua memancarkan sudut pandangmu
Semua memancarkan pemahamanmu
Semua memancarkan akidahmu
Apa yang menjadi ilahmu

Kembali amati, kembali cermati
Setiap responnya padamu
Perhatikan perasaannya
Perhatikan emosinya
Perhatikan egonya
dalam lisan dan lakunya

Apakah yang terpantul darinya?
Kelembutan ataukah kekerasan
Kebahagiaan ataukah kekesalan
Mengakui ataukah membela diri
Ego ataukah kemaslahatan
Pembalasan ataukah kesabaran
Kekecewaan ataukah iman

Amati dan cermati
yang dia pantulkan dari diri
Untuk kamu benahi diri

Bandung, 10 Februari 2021


~ Nasihat Jalaluddin Rumi dalam “Fihi Ma Fihi”

Rumi berkata, “Siang dan malam engkau senantiasa berperang, berupaya mengubah akhlak dari lawan jenismu, untuk membersihkan ketidaksucian mereka dan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka. Lebih baik menyucikan dirimu sendiri melalui mereka daripada mencoba menyucikan mereka melalui dirimu sendiri. Ubahlah dirimu sendiri melalui mereka. Temuilah mereka dan terimalah apa saja yang mereka katakan, walaupun dari sudut pandangmu ucapan mereka itu terdengar aneh dan tidak adil.”