Oleh Ais Irmawati

Duluuu sewaktu SD tingkat rendah orang tua pernah membeli sebuah kotak media belajar bahasa Inggris. Mungkin materinya percakapan (conversation). Isi kotak itu adalah kaset, buku-buku pendamping.

Hmmm, agak gak jelas juga sebetulnya kaset itu adalah pendamping buku, agar pengucapannya betul. Atau, buku itu sebagai pendamping kaset, agar selain berbicara, orang tersebut juga memahami cara penulisannya.

Di kotak itu juga ada kamus Inggris-Inggris, bergambar; satu-satunya isi kotak yang menarik perhatianku.

Kamus cantik itu mendampingi hari-hariku sejak SMP sampai dengan SMA, karena waktu SD aku lebih suka melihat-lihat gambarnya saja.

Lalu, entah kapan, mungkin waktu banjir tahun 2002 atau sebelumnya, kamus itu tersimpan begitu rapi bersama beberapa buku dan dokumen lain. Aku ingat punya barang itu, karena sedemikian lekat di dalam hati, tapi tidak tahu di mana posisinya.

Eeh, kemarin sewaktu beres-beres gudang, kamus itu kutemukan lagi, masih tetap dalam kondisi rapi seperti sedia kala. Alhamdulillah.

Kamus itu ditemukan tepat pada waktunya, yaitu ketika si remaja mau masuk SMP, perlu belajar bahasa Inggris dengan agak lebih serius, dan masih suka buku yang penuh gambar.

Seperti halnya kamus, Allah sering sekali menyimpan doa-doa kita. Rahasia hati yang paling dalam, bahkan sampai terlalu malu untuk mengungkapkan. Tapi, Allah Sang Maha, berkenan mendengar, menyimpan, dan mengabulkannya di saat yang paling tepat.

Misalnya, Nabi Ibrahim a.s. baru dikaruniai putra di usianya yang ke-100 tahun. Putra itu diberi nama Ismail, yang artinya Dia mendengar (doa).

Jadi, tetaplah berdoa dengan penuh rasa fakir, karena Allah akan mengabulkannya.

Dari QS. Ghafir [40]: 60

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan, Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya, orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku, akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman:

يا عبادي ! كلكم جائعٌ إلا من أطعمتُه . فاستطعموني أُطعمكم . يا عبادي ! كلكم عارٍ إلا من كسوتُه . فاستكسوني أكْسُكُم

“Wahai, hamba-Ku, kalian semua kelaparan, kecuali orang yang Aku berikan makan. Maka, mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan berikan. Wahai, hamba-Ku, kalian semua tidak berpakaian, kecuali yang Aku berikan pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan.” (HR. Muslim no. 2577)

Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha juga mengatakan:

سَلُوا اللَّهَ كُلَّ شَيءٍ حَتَّى الشِّسعَ

“Mintalah kepada Allah, bahkan meminta tali sandal sekalipun.” (HR. Al Baihaqi)

Sebagaimana permohonan lainnya, syarat berdoa adalah kita memiliki rasa fakir, artinya doa yang betul-betul dibutuhkan, bukan sekadar rapalan mantera, tetapi hatinya lalai.

Presisi, seumpama, “Ya, Allah, hamba perlu uang untuk bayar sekolah anak sebesar Rp50.000,-” Doa yang disertai ilmu.

Semua anugerah pasti disertai konsekuensi, seperti doa, “Ya, Allah, minta rezeki yang banyak.”

Konsekuensinya, kita akan membelanjakan uang tersebut, yang jangan-jangan hanya memenuhi keinginan hawa nafsu kita, yang malah menjauhkan diri dari-Nya.

Kalau doa-doa di masa lalu tidak Dia kabulkan, jangan-jangan doa itu sebetulnya sudah dikabulkan dalam bentuk yang lebih baik. Ada seorang remaja putri yang mempunyai selintasan pikir, agar diberi suami seorang pedagang bakso, karena dia sangat suka makan bakso. Bertahun, berselang, Allah meningkatkan kondisi ekonominya, sehingga dia dapat mencicipi bakso di berbagai lokasi. Dia juga diberi kemudahan membuat bakso sendiri sesuai dengan keinginannya.

Sampai akhirnya … harapan mempunyai suami seorang pedagang bakso pun pupus sudah.

Jakarta, 15 Februari 2021