Oleh: Arif Budiman

Dialah sang ego: tanpa komando dan tanpa manifesto.

Dialah sang ego: penyusup dalam senyap, musuh dalam selimut, penjajah dalam gelap maupun dalam terang.

Dialah sang ego: yang menjadi berhala untuk disembah, lantas dipertuhankan.

Dialah sang ego: yang menjelma seratus Kurawa yang ditumpas di Kurusetra dalam perang Baratayudha.

Dialah sang ego: yang menjelma Yudhistira saat terseret ke dalam permainan dadu, lantas kalah ketika mempertaruhkan diri dan harta, dengan empat Pandawa beserta Drupadi, istrinya.

Dialah sang ego: yang menjelma Sangkuni licik dan penuh tipu muslihat.

Dialah sang ego: yang menjelma mahaguru Drona, saat meminta Ekalaya mengorbankan ibu jarinya sebagai syarat menjadi muridnya, hanya agar Arjuna menjadi pemanah nomor satu bangsa Arya.

Dialah sang ego: yang menjelma Bisma, putra Dewi Gangga, senantiasa teguh pada tradisi, terikat pada sumpah dan janji.

Dialah sang ego: yang menjelma Drupada, saat menolak kenyataan bahwa yang keluar dari rahim suci api persembahan adalah seorang perempuan, bukanlah sosok lelaki rupawan.

Dialah sang ego: yang menjelma Karna, seorang kesatria yang haus pengakuan dan butuh kehormatan.

Dialah sang ego: yang menjelma Rahwana dan memiliki ajian pancasona, yang tak bisa mati jika bagian tubuhnya masih menyentuh bumi.

Dialah sang ego: yang menjelma Rama saat meragukan kesucian Dewi Sita usai membebaskannya dari cengkeraman Rahwana di negeri Alengka. Atau, dialah sang ego yang mesti dihunjam panah busur seorang Rama.

Serta, dialah sang ego, yang disiasati dengan cerdik oleh kebijaksanaan Krishna, ataupun mesti ditumpas cakra jingga milik Krishna yang dilepas dari tangan keadilannya.

Dan, dialah sang ego yang menjelma kita: dalam pikiran dan perasaan, serta keinginan yang tiada sejalan dengan kehendak Sang Pencipta, jauh dari nilai-nilai kebenaran dan terhijab kesejatian.

Air Raja, Februari 2021