Oleh: Pepi Ramayati

Suatu sore, saya dapati seorang ibu single parent yang wajahnya nampak kesal dan marah. Ternyata, dia sedang marah terhadap anak satu-satunya, laki-laki (masih SMP), yang sebentar lagi mau lulus.

Nama panggilan anaknya, Reza.

Tidak lama, ibu Reza memulai cerita. Dia kesal, karena Reza susah diberi tahu. Dia enggak pernah mengizinkan anaknya menginap di rumah temannya. Apalagi kondisi sedang pandemi begini, sangat rentan. Eh, anaknya masih juga memaksa. Dia minta bantuan kakaknya yang laki-laki (uak) untuk bicara lewat telepon ke anaknya. Dengan sedikit lega, dia berkata, “Dah, tuh, alhamdulillah, Reza manut sama uaknya.”

“Eh, diam di rumah, malah begadang sampai larut malam, game online dengan temannya.”

“Kalau jam tidurku terlewat, susah lagi untuk bisa tidur, akhirnya aku enggak bisa tidur sampai subuh, berisik.” Ibunya makin menegaskan kekesalannya.

Akhir-akhir ini Reza jadi sering melawan kalau dikasih tahu. Disuruh shalat jadi susah minta ampun.

“Ya, Bu. Nanti, Bu!”

Begitu terus.

Aku sikapi keras saja anak itu.

“Shalat itu wajib. Kalau enggak dikerjakan dosa, kamu bakal masuk neraka!”

“Ibu cerewet begini karena sayang. Nanti kalau kamu sudah mati, baru nyesel, lho, enggak ada guna!”

Saya tersenyum, karena saya pun pernah mengalami hal demikian. Anak saya laki-laki, sebentar lagi 18 tahun, juga mau lulus sekolah. Namun, tingkat kesadaran dalam beribadah, khususnya shalat, masih harus selalu diingatkan.

Saya ceritakan saja bagaimana keseharian anak saya yang luar biasa menguras kesabaran ini. Anak juga perlu diberi pengertian yang benar: apa itu shalat, mengapa muslim itu harus menegakkan shalat, apa tujuan dan fungsi shalat, yang bukan sekadar menunaikan kewajiban.

Saya jelaskan juga, bagaimana orang tua menyikapi fase anak ketika tujuh tahun pertama sebagai raja, tujuh tahun kedua sebagai tawanan, dan tujuh tahun ketiga bisa sebagai teman. Ini menurut ajaran Islam.

Saya pun tetap mengajak anak saya untuk belajar disiplin, berlaku sopan terhadap orang tua. Namun, di samping itu, saya ingat pelajaran suluk bahwa manusia, pada saat bayi turun ke bumi, memiliki jiwa yang suci. Selayaknya manusia, ia akan tumbuh berinteraksi, baik di sekolah maupun lingkungan sekitar. Dalam interaksinya, manusia pasti akan berbuat salah atau berdosa. Ada masanya manusia mengalami “pemburaman hati” dikarenakan dosa-dosanya.

Hanya Allah Yang Mahakuasa yang mampu membersihkan dosa-dosa hamba-Nya. Tanpa bersalah, apa yang akan manusia tobati?

Bicara soal dosa, kemungkinan besar sang ibulah yang lebih banyak dosa yang belum ditobati ketimbang dosa anaknya yang masih SMP. Betul, tidak?

Dahulu pun sewaktu saya masih muda, belum berarti sudah menjadi anak sebaik yang diharapkan orang tua saya. Bisa dipastikan, saya pun pasti sering membuat kesal orang tua saya.

Well, yang pernah saya dapatkan dari seorang bijak tentang mendidik anak, yaitu sebagai orang tua, cukup sekadar mengingatkan, memberi pengertian. Bukan menghakimi. Orang tua akan jauh lebih bijak dengan memberi teladan, belajar memaafkan kesalahan anak, dan mendoakannya.

Kesabaran orang tualah yang akan berjejak kuat pada memori sang anak dan itu bisa jadi warisan yang berharga di masa tuanya nanti. Nah, kesabaran pun harus dimohonkan pada Sang Pemilik sifat sabar.

Alih-alih orang tua merasa sudah benar, tegas mendidik dengan menghakimi anak, orang tua malah mengambil alih kuasa Tuhan.

Serem dah, ah …!!

Lemah lembut, tegas, keras, marah, humoris, atau apa pun karakter yang dimainkan orang tua, tetap harus dalam kadar yang terukur. Jenis dan tingkat masalah, perkembangan usia, pemahaman ilmu terkait, waktu, kondisi psikis anak, semuanya harus menjadi pertimbangan orang tua dalam menentukan sikap.

Saya mengakhiri pembicaraan saya. Bahwa sampai sekarang saya terus berupaya mengingatkan anak tidak dengan sikap kesal. Saya mendoakannya, memohonkan ampunan Tuhan atas kelalaiannya, juga mohon ampun atas segala dosa dan kelemahan saya. Saya memohon bimbingan-Nya. Lepas dari itu, saya serahkan kembali kepada Tuhan Yang Maha Penyayang dibandingkan kita, orang tuanya. Ada wilayah-Nya yang Dia Ta’ala berkuasa membimbing anak kita. Kita tidak pernah tahu bagaimana cara Allah memperjalankan seseorang, termasuk anak kita.

“Bagaimana, setuju?”

“Lho, katanya Allah Maha Menjaga. Itu sebaiknya dibuktikan, biar kita betul-betul yakin,” ujar saya sambil mengajaknya bercanda, agar beban di kepala ibu Reza tidak teramat berat.

25 Februari 2021

Cisaranten Endah, Bandung