Oleh: Yeni Wulan

Bulan tersaput mega. Mataku enggan beranjak meninggalkan langit berbintang malam itu. Aku termenung, ada pertanyaan investigatif ke dalam diri tentang apa, kenapa, bagaimana, maksud dari kehendak-Nya yang belum aku mengerti, saat dihadirkan si kecil dengan segala keterbatasannya. Banyak yang menganggap aku mendapatkan kutukan. Ada pula yang berpendapat karena dosaku terlalu banyak, semua kuterima karena sungguh benar, mana ada manusia seperti aku ini yang tanpa dosa?

Pada usianya yang kini menginjak 8 tahun, ia belum dapat mengerti dan berkomunikasi dengan bahasa yang kami sampaikan, belum bisa ke toilet secara mandiri, dan banyak hal yang belum mampu ia kerjakan. Namun, sebagai seorang ibu yang disematkan asma-Nya, Ar-Rahim, aku mencoba belajar mengenai makna kerahiman-Nya. Rahim yang aku pahami adalah betapa hati, rasa, sikap, dan perilaku seorang ibu akan selalu memberikan perhatian, perlindungan, bimbingan, pendidikan dengan luapan cinta kasih sayang yang tidak dapat diungkapkan dalam sebuah bahasa sastra.

Meskipun seorang anak kadang menggigit saat diberi ASI, rewel menangis ketika keinginannya tidak bisa terpenuhi, dan banyak kata “meskipun” lainnya, tapi tetap saja seorang ibu dengan kesabarannya memeluk dan membelai buah hatinya dengan sepenuh cinta kasih. Ada rasa sejuk mengalir ke dalam hati saat mencari makna Ar-Rahim ke dalam diri, tentunya sangat jauh dari yang Dia kehendaki, jauh dari yang Dia maksudkan.

Namun, sungguh, ada rasa malu, betapa Dia Allah Swt. selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya, agar mengenal dan mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan berbagai tamparan ujian kasih-Nya, Dia tetap berkehendak memberikan hamba-Nya hal terbaik demi menguatkan pohon keimanan dan ketakwaan dalam diri sang hamba.

Dalam doa, hatiku sangat berharap diberi rasa syukur dan rida atas semua ketetapan-Nya, juga harapan agar suatu hari nanti bisa jujur memanjatkan doa Nabi Zakaria a.s. Doa Nabi Zakaria a.s., yaitu doa ketika beliau memohon dengan suara lembut kepada Rabbnya, “Ya, Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya, Tuhanku.” (Doa ini tercantum di QS. Maryam [19]: 3-4.)

Aamiin.

Bandung, 26 Februari 2021