Oleh: Arif Budiman

hendak ke mana ragaku merana
di dalamnya sang jiwa telah lama sakit dan tak kunjung temukan obatnya

sang pelita telah lama padam, gelap tanpa cahaya, kaca kalbu penuh dengan debu
tebal mengkristal
dan sang jiwa telah lupa asal
benih dalam diri tak kunjung bertumbuh

pohon tiada, jangan ditanya berbuah apa tidak
zaitun yang mestinya tumbuh segar guna menghasilkan minyak
untuk menyalakan pelita
ranggas adanya

sang kuda kini berlari
tanpa sosok penunggang
melenggang sendirian
tanpa tahu arah dan tujuan
sekehendak hawa nafsu
ia sedemikian terburu
dan diburu bayang masa lalu
serta dipertakuti pada bayang masa depan
yang jelas belum kejadian

ke mana sang cahaya
ada di mana itu cahaya
setitik pun tidak apa
secercah pun tak mengapa
sesal pun jadi tiada guna
agar lapang isi dada
agar terang seisi hati
biar lekas sembuh sang jiwa ini

o, cahaya itu
cahaya di atas cahaya
berlapis-lapis cahaya
sebagai suluh di gelap malam
agar purnama sang bulan
biar tercipta rasi bintang
sebagai petunjuk kala berjalan
di malam-malam yang terasa jahanam
dan kian menghunjam

Air Raja, 26 Februari 2015 s.d 26 Februari 2021