Oleh Arif Budiman

Puan, telah kuizinkan kau ‘tuk menggores sunyi pada dinding hatiku, sebelum waktu berhenti berputar, bahkan sebelum jantungku berhenti berdetak

Teraminkanlah segenap pinta dan doa, atas nama sepi yang menjalar sampai ke dalam pembuluh darah, dan atas nama rindu yang mengalun merdu, hingga ke relung hatiku
Serta atas redupnya cahaya bintang di penghujung malam, hingga menuju pagi

Selimuti aku, kekasih, selimuti aku. Bacakan untukku sepenggal sajak sepi yang ditinggal mati oleh seorang penyair sufi
Kisahkan padaku hikayat seorang pelaut yang memburu kematian sampai ke dasar palung yang paling maut
Serta senandung untukku, sebaris ayat sunyi yang makna batinnya tersembunyi dari hati yang tak suci.
Selimuti aku, kekasih, selimuti aku
Biarkan aku lelap tidur di pangkuanmu yang serupa rumpun perdu di musim paling syahdu
Tanpa dusta menyerta, dan tanpa prasangka yang ‘kan melanda

Maka, atas nama cinta ‘kan kukecup bibirmu yang semerah delima dengan kecupan penuh makna dan sirat akan rahasia
Lalu, ‘kan kusambut setiap degup, dalam remang sinar rembulan tertutupi kabut
Serta dalam hangatnya pelukanmu yang bagaikan bilik suluk; tempat aku fana meniada dan sirna seketika
Seperti sirnanya embun pagi kala diterpa oleh cahaya matahari pertama

Dan, sebelum aku memejamkan mata dalam dekapanmu yang mesra, rapalkan untukku sebait doa sebanyak kerlip bintang di kala senja
Seraya ‘kan kutatap binar matamu yang bagaikan jendela menuju alam jiwa
Ataupun hatimu yang bersinar seperti rembulan sedang purnama

Air Raja, 2020-2021