Oleh Arif Budiman

Kusekat malam, rindu menghijab kalbu
Tatkala bayangmu jatuh pada cermin mataku
Kupintal waktu, jiwa menuntun ragaku
Menuju malam sepertiga, ‘tuk senandungkan
Doa, bersama derai air mata
Serupa bulir cahaya menitik jatuh
Menyatu dalam intisari langitku
Dan langitmu

Bumi seumpama hamparan sajadah
Di atasnya dua raga kita saling berpasrah
Dalam simbah dalam simpuh
Dalam luruh hingga gemuruh

Tasbihku adalah tasbihmu
Zikirmu ada dalam zikirku
Doaku dan doamu menyatu
dalam ruang dan waktu
Dan kuharap langit ‘kan dilipat
Bumi pun merapat mengikis jarak

Marilah, kekasih, mari kuajak saja dikau berdansa di altar cinta bermandikan cahaya
Tempat dua jiwa bersanding mesra, tanpa sekat dan tanpa jarak
Mari, kekasih, mari menari seirama simfoni Ilahi, tanpa unjuk akan diri dan tanpa ujub di dalam hati

Marilah, kekasih, mari menyaksikan keagungan cinta di mimbar penuh cahaya, tanpa raga tanpa dilema
Mari, kekasih, mari menikmati hidangan di meja perjamuan, tanpa sungkan dan tanpa keraguan

Marilah, kekasih, mari menenggak anggur Ilahi, agar usai segala sangsai, agar lekas sampai di puncak mahligai
Mari, kekasih, mari mabukkan jiwa ke puncak renjana paling fana
Tanpa cemas terhadap dosa, tanpa takut akan celaka

Sebab, di alam ini, kekasih,
tiada syariat ‘kan mengikat,
tiada pula dosa yang ‘kan melara
Gugur seketika, serupa gugurnya dedaunan
pada musim semi di taman surgawi

Marilah, kekasih, mari menghadiri walimatul cinta di Taman Asoka
Tanpa rahwana dan tanpa penggoda
Hanya kita berdua
Bagaikan Rama dan Sinta dimabuk tembang asmarandana
Disaksikan Sang Maha Esa
Di-ridha-i Sang Mahacinta

Air Raja, 2020-2021