Oleh Fathonah Fitrianti

Saat kau dalam kesulitan
Kau begitu khusyuk
Kau begitu berharap pada-Nya
Bahkan berjanji pada-Nya
mengikhlaskan ketaatan pada-Nya

Namun, jujur akui
Rasakan … perhatikan …
Siapa, apa yang kautakjubi, puji
Yang kauanggap memberi
Saat kau keluar dari masalah
Saat usahamu berhasil
Saat kau sembuh
Saat bisnismu sukses
Saat hubungan membaik

Lisanmu mungkin mengucap hamdalah
Namun, rasakan … perhatikan …
Adakah rasa takjub pada dirimu
Pada yang manusia ataupun sesuatu
selain Dia

Rasa takjub
Yang membuatmu memuji diri,
manusia atau hal selain-Nya
Bahkan, jadi merasa lebih dari yang lain

Dalam pikiranmu
untung ada aku
untung ada dia
untung ada ini itu

Seakan kaulupa
Tiada yang kaumiliki
manusia atau sesuatu itu miliki,
selain yang Dia pinjamkan
Hatta itu kemauan, kebaikan, kemampuan

Rasa takjub
Yang membuatmu meng-claim
bahwa kaulah atau sesuatu itulah yang menentukan
Rasa halus menganggap
bahwa kau atau itulah yang membawa
kesuksesan, perubahan, kesembuhan
Lintasan perasaan bahwa
kalau bukan karenamu/itu tak ‘kan berhasil

seakan kaulupa pada
Yang memampukan
Yang memudahkan
Yang mengizinkan

Lisanmu mungkin mengucap “Allahu Akbar”
Namun, rasakan … perhatikan …
Jujur akui
Siapa, apa yang sesungguhnya
kaujadikan andalan
Kaujadikan sandaran

Sesuatu yang selalu kauingat
bila kaubutuhkan
Sesuatu yang selalu kauingat
sebagai penjagamu

Dalam pikiranmu
Ah, tenang … ada tabungan
Ah, tenang … ada gaji bulanan
Ah, tenang … usaha banyak cabang
Ah, tenang .. ada teknik ini
Ah, tenang … ada kemampuan ini
Ah, tenang … ada si dia
dia ‘kan kaya
dia ‘kan pinter
dia ‘kan selalu memaklumi
dia kan mencintai
dia ‘kan pemaaf
dia ‘kan baik hati

Kau tertawan pada wasilah
Seakan lupa pada
apa yang di balik wasilah

Kau jadi lupa bersyukur pada-Nya
Takjub dan pujimu pada selain-Nya
Kau mengingkari nikmat-Nya

Kau pun jadi
menganggap dirimu
dalam genggamanmu
Kau pun lupa akan janjimu
dan berbuat semaumu

Ya, Allah, ampuni kami
atas khilaf dan dosa kami
kami berlindung pada-Mu
dari kekufuran dan ketakaburan

Aamiin

Bandung, 11 Maret 2021

“Dan, (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): “Sesungguhnya, jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur”.
“Maka, tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Yunus [10]: 22-23

Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: “Sesungguhnya, jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur”.”
Katakanlah: “Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya”.
QS. al-An’aam [6]: 63-64

  • inspirasi saat mendengarkan Kajian Hikmah Al-Qur`an yang dibawakan oleh Mas Herman tanggal 7 Maret 2021.

Mudah-mudahan enggak salah menangkapnya.