Oleh Fathonah Fitrianti

Aku melihat diriku
dengan kasih sayang
sebagai seseorang yang sedang
terperangkap oleh prasangka

Prasangka buruk karena kesalahpahaman
yang telah salah menduga
Membuat bersikap dalam stigma,
sehingga menorehkan luka

Prasangka buruk karena ketidakpahaman
Yang membuatku jadi
memandang baik keburukan
Waham merasa dalam kebenaran
Padahal dalam ego bahkan kepicikan

Prasangka buruk karena kebingungan
Seakan berada dalam kegelapan
Melangkah dalam kegamangan
Terpeleset dalam keputusasaan

Prasangka buruk karena kemelekatan
yang kuat menggenggam
dan takut kehilangan
Memunculkan skenario
yang menghembuskan ketakutan

Aku melihat diriku
dengan kasih sayang
yang tak sengaja
melakukan kekhilafan
Sedang dalam pertobatan
dan usaha perbaikan

Kuucapkan padanya dengan kelembutan,
“Sabar ‘kan berbuah kebaikan
Ketenangan dan kejernihan
kan menuntun pada kebenaran”

Kuucapkan padanya dengan kelembutan,
“Ayo, kita mendengar kajian
jiwamu sedang kehausan
akan ilmu yang menumbuhkan
dan juga mengokohkan pijakan”

Kuucapkan padanya dengan kelembutan,
“Pemahaman akan Al-Qur`an
menjadi penerang dan tuntunan
dalam menyikapi kehidupan”

Kuucapkan padanya dengan kelembutan,
“Ketakutan pertanda kemelekatan
Abaikan segala hasutan
Semua tak seperti yang kaubayangkan
Lepaskan dan percayakan
pada Dia yang mengalirkan”

Kudekap lembut menahan
Ketergesaan mengikuti pikiran
yang sedang dipenuhi was-was setan

Kudekap lembut menahan
Bersabar untuk tak mengikuti
emosi dan ego diri

Jangan beri makan egomu
Jangan besarkan egomu
Jangan beri makan emosimu
Jangan besarkan emosimu

Kesabaran, keimanan, ketakwaanlah yang perlu kauberi makan,
yang perlu kautumbuhkan

Aku melihat diriku
dengan kasih sayang
Kudampingi dalam pertumbuhan
dengan penuh kelembutan

Bandung, 13 Maret 2021

  • Teringat ada yang sharing tentang “self compassion” dan praktiknya dengan memeluk diri mengatakan memaafkan diri dan membesarkan hati.

Entah, serasa jadi ingin berbagi pandangan tentang menyayangi diri dengan mendampingi pertumbuhannya.