Oleh Fathonah Fitrianti

“Jika yang kauinginkan ayah, maka ia akan datang dengan membawa banyak oleh-oleh. Namun, jika yang kauinginkan adalah oleh-olehnya, Ayah tak akan datang.” Pesan guru.

Pikiran saya langsung terhubung pada perilaku kita dalam berdoa. Dan, tercetuslah sebuah pertanyaan. Apakah yang kita inginkan? Dia, ataukah kita inginkan pengabulan-Nya?

Terkadang kita berdoa yang sadar tak sadar. Ternyata, tujuan utamanya ialah tercapai apa yang kita harapkan. Hal itu terdeteksi dari rasa tak menerima, keluh, bahkan rasa marah kita atas kehidupan, bila yang diharapkan tak tercapai saat itu. Apakah di saat itu kita mensyukuri hati kita yang rajin bermunajat pada-Nya?

Bayangkan bila kita di posisi sang pemberi. Bayangkan bila kita datang tanpa membawa oleh-oleh. Atau, oleh-oleh yang kita bawa tak sesuai harapannya. Lalu, orang yang kita kunjungi tersebut tampak rautnya yang tak menerima atau bahkan marah. Seakan kita ini tak berharga bila tak membawa oleh-oleh yang dia harapkan.
Yang dikunjungi tak peduli dengan kita, sebab yang berharga baginya oleh-oleh kita.

Bayangkan pula hal sebaliknya. Kita datang, baik dengan oleh-oleh maupun tidak. Yang kita kunjungi menyambut gembira, mengajak bercakap, meminta kita berkunjung lagi. Bagaimana perasaan kita?

Saat kita kesulitan, kita sering memanjatkan doa pada-Nya. Karunia yang utama justru ada di hati kita, yang kembali menghadap kepada-Nya. Karunia ini jauh lebih besar daripada keinginan-keinginan yang kita harapkan. Bukankah kondisi yang serba lancar kadang membuat orang lupa pada-Nya? Dan, lupa pada-Nya itu sesuatu yang lebih berbahaya lagi.

Jangan menunggu hidup sulit dulu, baru memanjatkan doa. Itu seperti kita mengontak teman atau bicara pada pasangan hanya pada saat kita ada maunya, ada perlu dengannya. Susah maupun senang kita bermunajat pada-Nya.
Bahkan, anjuran memperbanyak doa saat kita kondisi lapang.

“Kenalilah, (ingatlah) Allah di waktu senang, pasti Allah akan mengenalimu di waktu sempit.” (HR. Tirmidzi)

Saat kita berdoa, tujuan utama kita membangun kedekatan dengan-Nya. Menjadikan dinamika hidup sebagai bahan baku bercakap dengan-Nya.

Saat kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah. Dia akan memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia. Dia akan memperbaiki semesta kita lahir batin.

Bandung, 23 Maret 2021

  • Tulisan ini mah catatan pengajian disertai pemahaman dan pemaknaan pribadi.

Teringat pesan KZ, lalu tergambar imajinasi dari pesan beliau tersebut. Bagi saya, analogi dari beliau tersebut mencerahkan. Ucapan dari mentor pun tercatat. 😄