Oleh Fathonah Fitrianti

Ada beberapa efek inner child yang tidak sehat.

Analogi efek ke-1:

Ia seperti kulit yang sedang luka. Karena kondisinya sedang luka, ketika ia mendapat goresan di kulitnya tersebut, ia merasa sakit. Goresan yang tingkatnya sama bagi kulit yang sehat, bisa jadi tak terasa apa-apa.

Jadi, misal A memiliki inner child tidak sehat di tema X, sedangkan B tidak. Respon A ketika mendapat goresan di topik X, bahkan dalam tingkat ringan, bisa jadi begitu emosi (merasa luka). Sedangkan B, ketika mendapat goresan di topik X, tidak sampai merasa luka dan bisa merespon dengan tenang.

Misalnya pada topik:

Dahulu ada luka perasaan merasa tidak didengarkan. Setelah besar, mudah merasa terluka oleh berbagai perlakuan yang di topik “dia tidak didengarkan”. Terutama pada sosok yang diharapkan perlakuan baiknya.

Efek ke-2:

Trauma menyebabkan kerentanan mudah berprasangka dan mengimajinasikan skenario yang buruk. Kadang berkembang jadi stigma, belief buruk. Pada kenyataannya orang/hal yang dia prasangkai tersebut tak seburuk prasangka/imaji skenario/stigma/belief dia. Alur pikiran berdasarkan trauma mempersepsikan bahwa akan terjadi hal yang sama seperti hal dulu pernah terjadi atau sesuai dengan stigma/belief dia.

Efek ke-3:

Kerinduan yang berkembang menjadi kemelekatan akan hal yang dirindukan/diharapkan. Semakin melekat pada harapan tersebut, semakin terasa sakit setiap goresan patah hati (merasa kerinduannya tak tercapai). Misal, kerinduan dan harapan untuk didengar, agar orang yang dia harapkan punya inisiatif terhadapnya.

Lalu, apa manfaatnya bagi saya setelah menyadari poin-poin di atas?

  • Ada sebuah kelegaan bila kita memahami akar dari masalah kita. Seperti, kita lagi sakit mules atau demam. Akan ada satu tahap kelegaan bila sudah jelas sumber penyebab mules atau demam tersebut. Jadi, lebih terbayang bagi kita langkah selanjutnya yang perlu diambil, ke arah mana untuk mengatasinya.
  • Saya menyadari kenapa reaksi saya jadi lebih mudah emosi. Saya memahami kondisi saya yang berbeda dengan orang yang sehat. Jadi, saya tidak merendahkan ataupun menyalahkan diri. Namun, emosi tersebut tidak dijadikan pembenaran untuk melampiaskan emosi, melainkan untuk menyadari poin-poin mana dalam diri yang perlu saya aware untuk penyembuhannya.

Poin-poin yang dijadikan bahan baku untuk berdoa kepada-Nya.

  • Saya menyadari bahwa realitanya tak seburuk prasangka/stigma/belief/bayangan skenario saya. Saat emosi dan prasangka buruk tersebut diikuti kita bisa terjatuh kepada hal-hal yang menuduh, menghakimi, merendahkan, menyalahkan, dan sebagainya.

Jadi, sabarlah untuk tidak mengikuti emosi yang timbul atas prasangka/stigma/belief/bayangan skenario buruk tadi. Setan mencium hal itu lalu menghembus-hembuskan waswas. Abaikan dan jangan ikuti maunya setan. Sabar dalam keikhlasan dan kebaikan.

  • Menghindar dari terburu-buru menyalahkan orang-orang atas sakit yang dirasa. Sakit bisa jadi pertanda kondisi awal diri kita yang sudah tak sehat dan adanya kemelekatan. Jadi, rasa sakit pertanda ada kondisi internal yang perlu disehatkan kembali.

Bandung, 27 Maret 2021

  • Ini mah bukan tulisan ilmiah. Sekadar sisi lain diri saya yang senang mencatat pengamatan dari fenomena psikologis.